Al-Manshuuriin
Dalam
sejarah
perkembangan Islam di Indonesia kita mengenal beberapa
aliran islam mainstream dan non-mainstream. Meski sudah
sejak era Wali Songo islam mulai tersohor di bumi nusantara,
namun ternyata kekuatan gerak islamiyah lebih menyolok di
era pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini ditandai
oleh munculnya beberapa harokah islamiyah garis keras, yang
menginginkan syariat islam ditegakkan di Indonesia dan
menolak mentah-mentah hukum positif warisan Belanda.
Pergerakan ini tidak dilakukan oleh 2 (dua) aliran islam
mainsteam yang ada, melainkan oleh kelompok-kelompok
islam radikal semisal DI/TII, NII, dan kelompok Warman. Di
bumi nusantara bagian timur terkenal dipimpin oleh Kahar
Muzakkar, dan di barat dipimpin oleh SM. Kartosoewiryo.
Dari pemaparan beberapa pelaku sejarah “Perang Janur
Kuning Jogjakarta”, nama Kahar Muzakkar pun ikut disebut-
sebut sebagai salah satu pemimpin perebutan kemerdekaan
terhadap agresi Belanda di Sulawesi. Artinya, seorang Kahar
Muzakkar yang pada akhirnya dianggap sebagai pemberontak
pun sebenarnya memiliki andil terhadap bangsa ini dalam
merebut kemerdekaan. Namun setelah bangsa ini berangsur-
angsur lepas dari penjajahan, seiring itu pulalah terjadi konflik
internal untuk mendaulat republik ini agar bersyariat islam,
atau dengan kata lain beberapa pihak terang-terangan ingin
menjadikan status negara ini sebagai salah satu negara Islam
di dunia. Dalam perjalanannya sangat disayangkan, kelompok-
kelompok radikal ini menghalalkan segala cara demi
mencapai tujuan. Salah satunya adalah menghalalkan
mengambil harta benda milik rakyat Indonesia sendiri.
Sehingga bisa dibayangkan seperti apa isi pikiran rakyat
Indonesia pada waktu itu: “keluar dari mulut harimau, masuk
ke mulut buaya?”. Wallahu a’lam. Padahal kala itu juga
pemerintah Indonesia masih dipusingkan oleh agresi kedua
Belanda tahun 1949, dan konflik kepentingan antara presiden
pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dengan salah satu
tokoh pergerakan kemerdekaan, Tan Malaka.
Singkat cerita, pada pertengahan era orde baru, ketegangan
demi ketegangan memuncak, dimana friksi-friksi yang terjadi
antara pemerintah kala itu dengan beberapa kelompok islam
radikal ini akhirnya menyebabkan hampir seluruh organisasi
berbasis islam di indonesia otomatis dianggap oposan
pemerintah. Walhasil, kelompok-kelompok islam kecil lah yang
banyak menerima imbas buruknya dari pertikaian gerakan-
gerakan islam dengan pihak otoritas pada waktu itu dibanding
kelompok-kelompok islam yang telah memiliki nama besar.
Diantara kelompok-kelompok dakwah islam yang masih kecil
pada waktu itu adalah Darul Hadits dengan beberapa
kembangannya semisal YCI (Yayasan Citra Islam), KSPI
(Keluarga Studi Pemuda Islam), KADIM (Karyawan Dakwah
Islam), dan ASPI (Aspirasi Pemuda Islam). Darul Hadits
sendiri merupakan suatu kelompok pengajian Qur’an-Hadits
yang dipimpin oleh seorang ulama muda lulusan ma’had Darul
Hadits di Mekkah Al-Mukarramah, Nurhasan Al-Ubaidah bin
Abdul ‘Aziiz (1908-1982). Konon kelompok pengajian ini
sangat peduli terhadap tauhid, akhlak, akidah, dan pemurnian
tata laksana peribadatan ummat islam kala itu yang masih
banyak dianggap menyimpang dari sumbernya: Qur’an dan
Hadits (as-Sunnah). Ditinjau dari sisi manapun, melalui
perjalanan panjang sejarah tandzim dakwah islamiyah ini,
Darul Hadits eksis bertujuan untuk membetulkan seluruh
sendi pengamalan ibadah rakyat Indonesia yang masih
banyak menyimpang dari Qur’an dan Hadits, tanpa perlu
melakukan konfrontasi dengan pihak otoritas, orde lama,
maupun orde baru. Tidak seperti tudingan orang-orang yang
tidak mengerti sejarah esensi perjuangan amar ma’ruf nahi
munkar-nya, mereka menuding bahwa Syeikh Nurhasan Al-
Ubaidah rahimahullah ingin mendirikan ‘negara dalam negara’.
Tapi sampai hari wafatnya, hal tesebut bahkan sama sekali
tidak terbukti.
Kaidah keislaman para muslimin di Indonesia pada waktu itu
dinilai masih banyak terikat dengan kelakuan-kelakuan
peribadatan yang sebenarnya bertentangan dengan aturan-
aturan Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wassalaam dengan
pemaparan dalil-dalil syar’i olehnya. Era ini disebut-sebut
sebagai era “Babat Alas” [1]. Suatu masa dimana perjalanan
amar ma’ruf nahi munkar Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah kepada
sanak famili, teman-teman, dan sejawat-sejawat ulama dilalui
dengan berbagai rintangan fisik maupun metafisik, sebagai
hasil dari metode amar ma’ruf nahi munkar-nya yang dikenal
keras. Beliau berpesan kepada para santrinya bahwa
terkadang amar ma’ruf nahi munkar itu memerlukan sikap
yang tegas. Beliau pun sangat bertanggung jawab terhadap
reaksi masyarakat atas metode-nya itu, dan memberi
gambaran metode “babat alas” tersebut seperti ini:
“gambarannya seperti ada orang yang tertidur di bantalan rel
kereta api, sudah berkali-kali diperingatkan / diteriaki bahwa
ada kereta yang akan lewat, ia malah terlelap tidur. Akhirnya
si orang tidur tadi dibangunkan dengan cara paksa, yakni
dengan diseret ke tepi agar ia selamat. Meski pada awalnya
orang yang tertidur tadi marah-marah karena diseret paksa,
namun bilamana ia sadar bahwa justru ia diselamatkan
hidupnya, insya Allah ia akan berterima kasih”.
Sering kali syeikh memberi motivasi kepada para santrinya
yang menemui banyak rintangan dan cobaan atas ‘hasil jerih
payah’-nya beramar ma’ruf nahi munkar dengan beberapa
gandangan (bahasa Jawa: senandung) yang salah satunya
adalah gandangan “kembang turi”. Isinya kurang lebih begini:
“kembang turi lak melok-melok, sego wadang sisane sore, ora
peduli wong alok-alok, sandang pangan lak golek dewe”.
Intisarinya adalah: jangan jatuh mental dalam beramar ma’ruf
nahi munkar, jangan pedulikan orang lain yang mengolok-olok,
toh urusan sandang dan pangan kita mencari sendiri, dan
tidak meminta-minta kepada mereka yang mengolok-olok.
Meski terkesan remeh, namun gandangan seperti ini
merupakan warisan tradisi kejenakaan yang cerdas ala kyai-
kyai tradisional tanah Jawa dalam berkelakar namun memiliki
arti dan filosofi yang sangat dalam. Semisal teka-teki longan
(bahasa Jawa: kolong meja atau kolong tempat tidur).
“Apakah longan itu tetap ada jika meja atau tempat tidur
dipindahkan? Jadi, apakah longan itu benar-benar ada?”. Atau
semisal KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah
berkelakar pada acara pembukaan website Akbar Tandjung:
“Kenapa setiap orang berpidato selalu menyatakan: Mari kita
panjatkan syukur? Memangnya (si) Syukur nggak bisa manjat
sendiri?” (Fachry Ali, Gatra, Mei 2008).
Meski dijuluki mustadid (orang yang luar biasa) oleh sejawat-
sejawat ulama, Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah rahimahullah
bukanlah termasuk orang yang jummud (kaku), terkadang
syeikh menghibur santri-santrinya sebagaimana cerita yang
berkembang seperti; pernah suatu ketika dalam
membangunkan santri-santrinya untuk sholatul lail atau
sholat malam (tahajjud), syeikh tidak segan-segan berjoget
menghibur santri-santrinya yang masih terkantuk-kantuk
dengan sapu ijuk, yang syeikh gambarkan sebagaimana kuda
lumping. Dari hal itulah tersirat, syeikh mencontohkan kepada
santri-santrinya, bahwa dalam suasana apapun orang-orang
yang menegakkan hujjatullah harus tetap gembira dan ceria,
mesti dalam kondisi yang membencikan, atau dalam kondisi
sedang mendapat cobaan sekalipun dari Allah Ta’ala.
Sebagaimana anggota pramuka yang selalu menghibur dirinya
di kala apapun: “buat apa susah? buat apa susah? susah itu
tak ada gunanya”.
Masih teringat dari beberapa saksi sejarah perjalanan era
“babat alas” semisal Al-Hafidz Syeikh Su’udi Ridwan
rahimahullah, maupun Syeikhul Hadits Kasmudi As-Shiddiqqy
bercerita bahwa seringkali Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah
menerima banyak ‘bingkisan’ dari orang-orang, bahkan ulama-
ulama tradisional yg tidak sepaham dengannya berupa teluh,
santet, dan benda-benda ‘terbang’ aneh lainnya yang tidak
bisa diterima oleh akal sehat manusia modern. Semua itu
Beliau hadapi dengan sabar, tawakkal, serta yang paling
penting adalah doa. Tentang doa kepada Allah Ta’ala, dari
penuturan Syeikh Nur Asnawi rahimahullah, salah satu rekan
menuntut ilmunya di Mekkah-Medinah dulu, menceritakan
bahwa syeikh sangat yakin akan doanya kepada Allah Ta’ala.
Pernah suatu ketika di Mekkah, ada seorang temannya
kelaparan tidak punya beras (makanan) untuk dimasak,
akhirnya Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah berdoa agar Allah
Ta’ala memberikan beras yang bisa untuk dimasak saat itu
juga. Walhasil, doanya maqbul. Allah Ta’ala mengabulkan
permintaannya!. Bagi kita yang awam memang agak sulit
menerima cerita-cerita ‘tidak masuk akal’ semacam ini.
Namun kenyataannya memang demikian, apalagi cerita ini
diperoleh dari saksi hidup kala itu, Syeikh Nur Asnawi
rahimahullah. Bahkan salah satu santrinya yang saat ini telah
menjadi salah satu ulama di Pondok Pesantren Kertosono,
Ustadz Ubaid Khairi, pernah punya pengalaman spiritual yang
sama seperti Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah, yakni langsung
dikabulkan doanya semasa ia dan keluarga sedang
menghadapi kesulitan ekonomi. “Setelah bermunajat di dalam
bis kota yang mangantar saya dan anak istri pulang ke
rumah. Allah langsung memberi saya uang tunai. Bahkan
saya dan keluarga bisa mempergunakan uang itu untuk
keperluan sehari-hari selama kurang lebih 2 (dua) bulan...”,
tuturnya tatkala ia didapuk (bahasa Jawa: dinobatkan)
sebagai salah satu penyampai materi pada camping Cinta
Alam Indonesia di Cikole, Bandung, beberapa tahun silam.
Cerita yang sama, di zaman yang berbeda. Believe it or not.
Pada akhirnya sebagai manusia biasa, Syeikh Nurhasan Al-
Ubaidah rahimahullah dipanggil menghadap Yang Maha
Kuasa pada Februari 1982 dan dimakamkan di pemakaman
keluarga, Marga Kaya, Karawang, Jawa Barat. Namun
demikian warisan semangatnya untuk menegakkan
kalimatullah di negeri ini, agar Allah dan Rasul shallallahu
‘alaihi wassalaam tidak didustakan oleh setiap manusia, tetap
ada dalam diri sanubari masing-masing generasi penerus
pejuang agama yang secara ilmu-pun masih terlampau jauh
ketimbang Beliau, yang diberi julukan mustadid (orang yang
luar biasa). Luar biasa, karena Beliau al-Hafidz, menguasai
bacaan Qiraatus-Sab’ah, mufassir yang mumpuni, menguasai
Mustholah Hadits, menguasai ilmu alat, mengerti taraf ilmu
dari terminologi wajib, sunnah, makruh, mubah, menguasai
ilmu dari 49 perowi hadits beserta sanad-nya yang muttashil
sampai Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalaam,
gemar bekerja keras, tidak pernah takut dengan kondisi
kehidupan apapun kecuali hanya takut kepada Allah Ta’ala,
seorang hamba yang sangat percaya qodarullah dan nashrun
minallah, ahli dalam berdoa, ulama yang dicintai santri-
santrinya sekaligus dibenci oleh orang-orang yang belum bisa
menerima al-Haqq ini secara utuh dan murni, dan lain-lain.
Namun jangan lupa satu hal, semua izzah itu didapatkannya
atas dasar usaha, kerja keras, dan kecintaannya terhadap al-
Haqq, tidak didapatkannya dengan cara santai, bersenda
gurau, main-main (lahan), atau dengan istirahatnya badan.
Beliau menimba ilmu agama ini sekitar 10 tahun di Mekkah-
Medinah, dimulai pada tahun 1930-an sampai tahun 1941.
Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah tetaplah seorang hamba Allah
Ta’ala yang memiliki kekurangan. Namun kebajikan
kebajikannya-lah yang mesti diambil sebagai manfaat agar
berkah Allah Ta’ala tetap atas kita semua. “khoirun naasi
man yanfa’uhum lin naas”, “sebaik-baiknya manusia adalah
yang banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya”.
Tahun berganti, zaman pun berubah. Dimana manhaj (metode
dakwah) Darul Hadits yang pertama kali datang pada tahun
1941 di Indonesia, justru saat ini telah banyak orang dan
kelompok dakwah yang mengadopsinya. Diakui atau tidak,
dari beberapa ulasan dan website islam yang mudah
ditelusuri, banyak individu-individu dan ulama-ulama zaman
ini yang pada akhirnya secara jujur maupun tidak, mengerti
bahwa pergerakan dakwah islamiyah mereka mempunyai
kemiripan dengan apa yang dulu digerakkan oleh Syeikh
Nurhasan Al-Ubaidah sejak tahun 1941 di Indonesia, yaitu
merujuk pada tata cara ibadah ummat islam yang hakiki, yang
wajib, yang menurut sumber aslinya: Qur’an dan Hadits, tanpa
harus tercampur aduk dengan adat istiadat warisan ummat
Hindu-Buddha atau Animisme-Dinamisme di Indonesia, yang
justru bisa menjadikan agama islam ini semakin jauh dari
kemurniannya. Padahal jelas dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala
memerintahkan agar kita selalu memurnikan agamanya...
“mukhlishiina lahud diin”
Dalam salah satu buku terbitan Madani Institute, manhaj yang
berasal dari Jazirah Arab dan diwariskan oleh Syeikh
Nurhasan Al-Ubaidah rahimahullah ini, dimasukkan ke dalam
konteks pergerakan salafiyyah (salafism). Yaitu pergerakan
islam yang menomorsatukan pemurnian islam, yang
sebagaimana Rasullullah shallallahu ‘alaihi wassalaam dan
sahabat-sahabatnya contohkan, sebelum akhirnya islam
sendiri terpecah belah. Dengan kata lain, manhaj yang
merujuk pada tata cara ibadah dari 3 generasi awal
datangnya islam.
Apakah manhaj yang diadopsi oleh Darul Hadits ini disebut
ahlussunnah wal jamaah, salafiyyah, atau wahhabiyyah,
bukan merupakan issue yang substansial. Sebab
sebagaimana kutipan nasehat Syeikh Salih Fauzan
rahimahullah, “siapapun bisa menyandang gelar salafiyyun
atau ahlussunnah wal jamaah, namun yang penting adalah
esensinya ibadahnya”. Tapi lucunya, kabarnya Darul Hadits
dulu sempat diberi beberapa julukan yang nyeleneh oleh
orang-orang yang tidak sepaham, dengan julukan semisal:
Jamaah mbah Syuro, Jamaah Takfir, Neo-Khawarij, Islam
Puritan, Islam Jawa, Islam Murni, Wahhabi, PKI putih, dan
lain-lain. Namun hal itu tidak lantas menyurutkan potensi
amar ma’ruf nahi munkar sampai saat ini. Karena memang
itulah cobaan menjadi manusia yang beriman secara
konsekuen kepada Allah Ta’ala. Sangat cocok dengan dalil
ini... “huffatul jannati bil makarih, wa huffatun naari bis
syahwat”, “surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang
membencikan... dan seterusnya”. Artinya, tidak mudah
mencari surga Allah Ta’ala. Pasti ada rintangan dan cobaan.
Namun pastinya, hingga sekarang soal penjulukan, gelar, atau
penisbatan, kosa kata al-Manshuuriin, atau Thaifah al-
Manshuurah (golongan yang mendapat pertolongan Allah
Ta’ala) lebih disukai bagi hampir seluruh individu generasi
penerus Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah, daripada penggunaan
kosa kata Salafi, Wahhabi, Ahlussunnah Wal Jamaah,
Madzhabiyyah, atau penisbatan lainnya. Sesuai pula dengan
dalil dalam kitabullah yang menyebutkan... “haqqun ‘alaina
nunjil mu’miniina”, dan hujjah ini... “maa yaf’alullohu bi
‘adzaabikum in syakartum wa aamantum”, “wajib atas Kami
(Allah) menolong orang-orang yang beriman”, dan lain-lain.
Tidak masalah dengan urusan julukan, karena pada akhirnya,
yang penting adalah bagaimana tata cara ibadah kita kepada
Allah Ta’ala. Julukan apapun tidak bisa dijadikan bekal bagi
seseorang untuk berhasil masuk surga, dan terselamatkan
dari api neraka. Hanya amal ibadah dan atas rahmatNya-lah
yang menjadi penentu suksesnya manusia di kehidupan
akhirat nanti kelak.
Demikian sekilas cerita mengenai sosok Syeikh Nurhasan Al-
Ubaidah rahimahullah, yang mungkin hal ini bisa jadi
merupakan suatu ikhtiar pemulihan nama baik terhadap
berita-berita miring yang selama ini berkembang mengenai
diri dan metode dakwahnya, yang pada kenyataannya malah
bertentangan dengan apa yang telah syeikh perjuangkan
sampai akhir hayatnya. Suatu ikhtiar yang diilhami oleh “Surat
Surat Bersih Diri Muhammad bin Abdil Wahhab”.
Sehubungan dengan hal ini, sebagai referensi agar kita lebih
mengerti seperti apakah sosok seorang ‘alim ulama (ahli
ilmu) yang dipandang berkualitas, hebat, atau mumpuni, Imam
al-Shatibi rahimahullah lebih jauh telah menarik kesimpulan,
bahwa ada 3 (tiga) karakteristik pokok seorang ulama yang
dipandang berkualitas, hebat, atau mumpuni:
1) Ia melaksanakan apa-apa yang ia ucapkan/ajarkan.
Telah terbukti bahwa Beliau selalu konsekuen menjalankan
apa-apa yang ia ajarkan kepada santri-santrinya, tentunya
semua yang sesuai dengan kaidah Qur’an, Hadits, Ijma’, dan
Qiyas yang tidak bertentangan dengan aturan-aturan Allah-
Rasul. Bahkan para santrinya meniru apa saja yang Beliau
lakukan dalam beribadah kepada Allah, dikarenakan mereka
(santri) yakin bahwa amalan Beliau tidak lepas dari Qur’an
dan Hadits. Hal tersebut bukan termasuk taklid membabi
buta, karena selalu diiringi dengan ilmu. Bahkan menurut
kesaksian para orang-orang terdahulu yang pernah se-zaman
dengannya, Beliau mengeluarkan sayembara yang berlaku
sampai akhir hayatnya: Beliau bersedia memberikan motor
bagi siapapun yang mengetahui bahwa ada amal
perbuatannya yang tidak sesuai dengan aturan Allah dan
Rasul shallallahu ‘alaihi wassalaam. Subhanallah.
2) Ia sendiri mendapat ilmu langsung dari ulama-ulama
terpercaya dan mumpuni dalam kapasitasnya sebagai ahli
ilmu.
Dalam sanad-nya secara tersurat beliau langsung menimba
ilmu atau berguru langsung dengan para Masyaikh Darul
Hadits Mekkah Al-Mukarramah yang mu’tabar semisal Syeikh
Umar Hamdan (Abu Hafs Umar ibn Hamdan ibn Umar ibn
Hamdan al-Mahrasi At-Tunisi Al-Maghribi al-Madani Al-Maki
rahimahullah), atau Syeikh Abu Samah Abdul Dhohir
(Muhammad Abdul Dhohir ibn Muhammad Nuruddin Abu
Samah At-Talini Al-Mishri Al-Makki), dan lain-lain secara
manqul [2] (as-sama’ dan munawalah).
3) Santri-santrinya mengikuti apa yang ia ajarkan. Jika santri-
santrinya malah cenderung meninggalkannya, hal ini otomatis
menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang salah dengan apa
yang ia ajarkan. (ibid)
Alhamdulillah hingga saat ini semakin banyak individu-
individu, yang atas jasa Beliau pula lah, saat ini mereka telah
menjadi mubaligh-mubalighot yang tersebar tidak hanya di
Indonesia, namun juga di negara-negara regional seperti
Australia, Singapura, Malaysia, Suriname, Vietnam. Bahkan
ilmu yang dibawanya dulu dari Mekkah-Medinah, saat ini
telah sampai pula di benua Amerika dan Eropa. Mereka tetap
memegang apa yang telah syeikh ajarkan kepada mereka,
yaitu ilmu agama yang murni berdasarkan Qur’an dan Hadits
secara manqul, musnad, dan muttashil. Mereka tetap
memiliki kesamaan pergerakan dakwah seperti Syeikh
Nurhasan Al-Ubaidah: amar ma’ruf nahi munkar, basyiiran wa
nadziiran, dan lillahi ta’ala demi tujuan mulia: “wa tilkal
jannatul-latii uurits-tumuuhaa bimaa kuntum ta’maluun”, “dan
demikian surga itu diwariskan sebab apa-apa yang kalian
perbuat (di dunia)”.
Mudah-mudahan semangat al-Manshuuriin yang pernah
dicontohkan Syeikh Nurhasan Al-Ubaidah ini tetap melekat
pada diri generasi penerus mu’miniin yang mencintai Allah
dan Rasul shallallahu ‘alaihi wassalaam diatas segalanya.
Amiin Yaa Dzal Jalaali Wal Ikram. Mohon maaf bilamana ada
kesalahan. Semua kesalahan dalam penulisan ini pastinya
berasal dari diri penulis, namun semua kebenaran tetap
berasal dari Allah Ta’ala.
Wallahu Musta’an.
Walaa hawlaa walaa quwwata illa billah.
glossary
[1] Babat Alas: istilah dalam bahasa Jawa yang arti
harfiahnya adalah “pembukaan lahan hutan” yang bisa
dipergunakan sebagai lahan pertanian, atau agar bisa
dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna lainnya semisal
perumahan, dan lain-lain.
[2] Manqul means transmitted sciences. It includes
knowledge which is understood through study and by going
back to the founder of the science and his/her followers
through a recognised chain of transmission (isnad). It
includes religious science, for example, ‘ilm Al-Hadith, the
Science of the Hadith. (Egyptian Science in Medieval Arabic
Sources).
Oleh: Teguh Prayogo http://Teguh354.blogspot.com
AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH Menetapi Dan Berpegang Teguh Pada QUR'AN HADITS JAMA'AH
kemurnian Qur'an,Hadits, Jama'ah... Qur'an adalah firman Alloh... Hadits adalah sunah Rosululloh... Jama'ah adalah bentuk aslinya islam menurut Alloh dan Rosulnya...menetapi Qur'an Hadits Jama'ah berarti menjalankan kewajiban beribadah dengan mengikuti ketentuan dan peraturan yg terdapat dalam Al Qur'an dan Al Hadits dan dikerjakan secara berjama'ah karna Alloh.
Sabtu, 23 Agustus 2014
Sabtu, 13 Juli 2013
Sejarah (ringkas) Pergerakan Salafi Modern di Indonesia
Di tahun 80-an, -seiring dengan maraknya gerakan kembali kepada Islam di berbagai kampus di
Tanah air- mungkin dapat dikatakan sebagai tonggak awal kemunculan gerakan Salafiyah modern di Indonesia. Adalah Ja’far Umar Thalib salah satu tokoh utama yang berperan dalam hal ini. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Saya Merindukan Ukhuwah Imaniyah Islamiyah”, ia menceritakan kisahnya mengenal paham ini dengan mengatakan:“Ketika saya belajar agama di Pakistan antara tahun 1986 s/d 1987, saya melihat betapa kaummuslimin di dunia ini tercerai berai dalam berbagai kelompok aliran pemahaman. Saya sedih dansedih melihat kenyataan pahit ini. Ketika saya masuk ke medan jihad fi sabilillah di Afghanistanantara tahun tahun 1987 s/d 1989, saya melihat semangat perpecahan di kalangan kaum muslimindengan mengunggulkan pimpinan masing-masing serta menjatuhkan tokoh-tokoh lain...Di tahun-tahun jihad fi sabilillah itu saya mulai berkenalan dengan para pemuda dari Yaman danSurian yang kemudian mereka memperkenalkan kepada saya pemahaman Salafus Shalih AhlusSunnah wal Jamaah. Saya mulai kenal dari mereka seorang tokoh dakwah Salafiyah bernamaAl-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i...Kepiluan di Afghanistan saya dapati tanda-tandanya semakin menggejala di Indonesia. Saya kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1989, dan pada Januari 1990 saya mulai berdakwah. Perjuangan dakwah yang saya serukan adalah dakwah Salafiyah...”Ja’far Thalib sendiri kemudian mengakui bahwa ada banyak yang berubah dari pemikirannya,termasuk diantaranya sikap dan kekagumannya pada Sayyid Quthub, salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang dahulu banyak ia lahap buku-bukunya. Perkenalannya dengan ide gerakan ini membalik kekaguman itu 180 derajat menjadi sikap kritis yang luar biasa – untuk tidak mengatakan sangat benci-.Di samping Ja’far Thalib, terdapat beberapa tokoh lain yang dapat dikatakan sebagai penggerak awal Gerakan Salafi Modern di Indonesia, seperti: Yazid Abdul Qadir Jawwaz (Bogor), Abdul Hakim Abdat (Jakarta), Muhammad Umar As-Sewed (Solo), Ahmad Fais Asifuddin (Solo), dan Abu Nida’ (Yogyakarta). Nama-nama ini bahkan kemudian tergabung dalam dewan redaksi Majalah As-Sunnah –majalah Gerakan Salafi Modern pertama di Indonesia-, sebelum kemudian mereka berpecah beberapa tahun kemudian.Adapun tokoh-tokoh luar Indonesia yang paling berpengaruh terhadap Gerakan Salafi Modern ini –di samping Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab tentu saja- antara lain adalah:1. Ulama-ulama Saudi Arabia secara umum.2. Syekh Muhammad Nashir al-Din al-Albany di Yordania (w. 2001)3. Syekh Rabi al-Madkhaly di Madinah4. Syekh Muqbil al-Wadi’iy di Yaman (w. 2002).Tentu ada tokoh-tokoh lain selain ketiganya, namun ketiga tokoh ini dapat dikatakan sebagai sumber inspirasi utama gerakan ini. Dan jika dikerucutkan lebih jauh, maka tokoh kedua dan ketiga secara lebih khusus banyak berperan dalam pembentukan karakter gerakan ini di Indonesia. Ide-ide yang berkembang di kalangan Salafi modern tidak jauh berputar dari arahan, ajaran dan fatwa kedua tokoh tersebut; Syekh Rabi’ al-Madkhaly dan Syekh Muqbil al-Wadi’iy. Kedua tokoh inilah yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap munculnya gerakan Salafi ekstrem, atau –meminjam istilah Abu Abdirrahman al-Thalibi- gerakan Salafi Yamani.Perbedaan pandangan antara pelaku gerakan Salafi modern setidaknya mulai mengerucut sejakterjadinya Perang Teluk yang melibatkan Amerika dan Irak yang dianggap telah melakukan invasi ke Kuwait. Secara khusus lagi ketika Saudi Arabia “mengundang” pasukan Amerika Serikat untuk membuka pangkalan militernya di sana. Saat itu, para ulama dan du’at di Saudi –secara umum- kemudian berbeda pandangan: antara yang pro dengan kebijakan itu dan yang kontra.Sampai sejauh ini sebenarnya tidak ada masalah, karena mereka umumnya masih menganggap itu sebagai masalah ijtihadiyah yang memungkinkan terjadinya perbedaan tersebut. Namun berdasarkan informasi yang penulis dapatkan nampaknya ada pihak yang ingin mengail di air keruh dengan “membesar-besarkan” masalah ini.Secara khusus, beberapa sumber menyebutkan bahwa pihak Menteri Dalam Negeri Saudi Arabia saat itu–yang selama ini dikenal sebagai pejabat yang tidak terlalu suka dengan gerakan dakwah yang ada- mempunyai andil dalam hal ini. Upaya inti yang dilakukan kemudian adalah mendiskreditkan mereka yang kontra sebagai khawarij, quthbiy (penganut paham Sayyid Quthb), sururi (penganut paham Muhammad Surur ibn Zain al-‘Abidin), dan yang semacamnya.Momentum inilah yang kemudian mempertegas keberadaan dua pemahaman dalam gerakan Salafimodern – yang untuk mempermudah pembahasan oleh Abu ‘Abdirrahman al-Thalibi disebut sebagai-: Salafi Yamani dan Salafi Haraki. Dan sebagaimana fenomena gerakan lainnya, kedua pemahaman inipun terimpor masuk ke Indonesia dan memiliki pendukung.(bersambung)
WAJIBNYA MENETAPI ISLAM SECARA BERJAMAAH DAN BERIMAM
Wahai kaum muslimin, dari semenjak Nabi Nuh hingga jaman akhir ALLAH menggariskan bahwa dalam menjalankan ibadah menetapi syariat agama haruslah/wajib berjamaah dengan dipimpin,dibimbing dan diatur oleh seorang pemimpin(tidak bergolong-golong),
firman ALLAH:
شَرَعَ لَكُمْ مِّن الدِّيْنِ مَا وصّيٰ بِه ى نُوحاً والذيۤ أوحيناۤ إليك وما وصّينابِهۤ إبرٰهيم و موسي و عيسيٰۤ أن أقيموا الدين ولا تتفرّقوا فيه كبر علي المشركين ما تدعوهم إليه...الاية الشوري:١٣
Artinya:
"Alloh telah memberikan syariat agama sama seperti yang telah diwasiatkan pada nabi Nuh sama seperti yang dawahyukan padamu (Muhamad) dan sama seperti yang diwasiatkan pada nabi Ibrahim,Musa, dan Isa yaitu supaya kalian menetapi agama dan jangan berpecahbelah (berfirqah2) didalam menjalankan agama, ajakan yang kamu serukan ini berat atas orang2 musyrik untuk menjalankannya...Al Ayat" (Q.S. Asy Syuura 13)
واعْتصموا بحبل الله جميعاً و لا تفرّقوا....الاية ال عمران:١٠٣
Artinya:
Berpegang teguhlah kalian pada agama ALLAH secara berjama’ah dan janganlah berpecahbelah (berfirqah2)….Al Ayat (Q.S. Ali Imran 103)
Didalam tafsir termashur diantaranya :tafsir jalalain dan ibnu Katsir kalimat jami’an dimaksudkan Alloh memerintahkan untuk berjama’ah. Ana akan kemukakan beberapa hadist yang menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan berjama’ah dan jangan berfirqah2:
١- كَانَتْ بَنُو اِسًَََرَاءِيلَ َتسُوْسُهُمُ اْلاَنِْبيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيُّ خَلَفَهُ نَبِيّ وَاِنَّهُ لاَ نَبِيّ بَعْدي وَستَكُوْنُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوْا فَمَا تَأمُرُنَا قَال فُوْا بَيْعَةَ اْلاوٌَل فاْلاوَّل واَعْطُوْهُمْ حَقَّهُمْ فَاِنَّ الله سَاءِلُهُمْ عَمَّا اْستَرْعَاهُمْ
رواه مسلم كتاب الامرة))
Artinya:
Yang mengatur/memimpin/membimbing kaum Bani Israil adalah Para Nabi, tatkala Nabi yang satu wafat maka menggantikan Nabi yang lain, dan bahwasannya tidak ada Nabi lagi sesudahku dan akan ada Khalifah2(Imam2) maka akan banyak mereka,Para Sahabat berkata: maka apa yang Rasulullah perintahkan pada kami(kalau sudah menjumpai zaman sesudah rasulullah dan banyaknya imam) tetapilah bai’at kalian yang pertama (pada imam yang paling awal) maka yang pertama dan penuhilah hak mereka imam (untuk diTaati) seungguhnya ALLAH akan meminta pertanggung jawaban pada mereka imam tentang pengaturan yang mereka lakukan pada ru’yahnya(jam’ahnya).(HR Muslim Kitabul Imarah)
٢. .....قال تَلْزَمُ جَمَاعَةَ اْلمُسْلِمِينَ وَ اِمَامَهُم قُلْتُ فَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلا اِمَامٌ قال فَاعْتَزِلْ تلك الفِرَقَ كُلَّها ولو اَنْ تَعَضَّ بِاَصْلِ شَجَرة حتَّى يُدْرِكَكَ اْلمَوْت وَ اَنْتَ علي ذلك
رواه بخاري كتاب المناقب))
Artinya:
…..Nabi Bersabda: Kamu supaya menetapi jama’ahnya orang islam dan imam mereka, berkata aku hudaifah : jika pada waktu itu tidak ada jama’ah dan tidak ada imam, Nabi Bersabda: Maka memisahkan dirilah engkau dari semua golongan2 itu (golongan yg tidak ada imam dan tdk berjam’ah) kamu harus memisahkan diri meskipun sampai2 engkau makan akarnya pohon sampai mati menjemputmu .(HR Bukhari Kitabul manakib)
لَيْسَ اَحَدٌ يُفَارِقُ اْلجَمَاعَة شِبْرًا فَيَمُوْت اِلََّا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً (رواه البخاري)
Artinya:
Tidak ada seorangpun yang memisahi jama’ah sejengkal(tidak berjamaah) maka mati dia berarti matinya dalam keadaan jahiliyah (HR Bukhari)
مَنْ كَرِهَ مِنْ اَمِيْرِهِ شَيأً فَلْيَصْبِرْ فَاِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَان شِبْراً مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيّةً
(رواه بخاري كتاب الفتن)
Artinya:
Barang Siapa yang membenci sesuatu dari imamnya maka supaya sabar karena siapapun yang keluar dari keimaman meski sejengkal maka mati dia dalam keadaan jahiliyah (HR Bukhary Kitabul fitan)
Wahai saudaraku kaum muslimin, dari dalil2 diatas menunjukan bahwa wajibnya kita mempunyai imam dan menetapi jama’ah ,menetapi jama’ah berarti mempunyai imam dan Taat pada aturan2 imam yang tidak maksiat, sehingga kita dapat melaksanakan perintah Allah di QS Annisa ayat 59:
يأۤۤيّها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول و أُولي الامر منكم...الاية
Artinya:
Hai orang2 beriman taatlah kalian pada ALLAH, Rasul dan yang mempunyai perkara kamu sekalian (imam) (Al Ayat Q.S. Annisa 59)
Dan dapat melaksanakan sabda rasulullah s.a.w:
عَلَي اْلمَرْءِ اْلمُسْلِمِ السَّمْعُ والْطَّاعَةُ فِيمَا اَحبَّ و كَرِهَ اِلَّا اَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَاِنْ اُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فلاَ سَمْعَ و لاَ طَاعَةَ
(رواه مسلم كتاب الامارة)
Artinya:
Wajib atas seorang muslim untuk mendengarkan dan Taat (pada imamnya) didalam semua perkara baik yang menyenangkan maupun membencikan kecuali diperintah utk berbuat maksiyat, maka jika diperintah (oleh imamnya) dengan maksiat maka janganlah mendengarkan dan Taat . (HR Muslim Kitabul Imarah)
Kesimpulan :
Wajibnya kita menetapi jama’ah dan berimam sampai2 seandainya disuatu tempat tidak ada imam dan jamaah maka orang itu harus uzlah memisahkan diri dari semua golongan disitu karena semua yang ada disitu berarti firqah2 bukan jama’ah (hadis Bukhari no 2 diatas),praktek harus memisahkan diri meskipun harus makan akar-akar pohon(terpencil sendirian dipedalaman hutan).
BEBERAPA KONTROVERSI TENTANG IMAMAH / KEIMAMAN
• MENENTUKAN KRITERIA IMAM MANAKAH YANG SAH PADA SAAT INI
Berdasarkan dalil berikut ,apabila disuatu wilayah ada dua atau lebih keimaman maka yang sah dari semuanya adalah yang pertama:
عن عَرفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه صلي الله عليه و سلم يَقُولُ: مَنْ أتاَكُمْ وَاَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ علي رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ اَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أوْ
يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَقْتُلُوهُ
(رواه مسلم كتاب الامارة)
Artinya:
Dari Arfajah berkata mendengar aku pada Rasululloh s.a.w bersabda: Barang siapa yang datang pada kalian sedangkan perkara kalian telah berkumpul atas seorang laki2(perkara agama sudah diatur oleh seorang imam),orang yang baru datang tersebut menghendaki untuk memecah perkumpulan kalian atau dengan kata lain menghendaki memcah jamah kalian maka bunuhlah orang tersebut.(HR Muslim Kitabul Imarah)
عن اَبِي سعيد الْخُدرِيُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّه صلي الله عليه و سلم: اِذَا بُوْيِِعَ لِخَلِفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا اْلاۤخَرَ مِنْهُمَا (رواه مسلم كتاب الامارة)
Dari Abi Said Alkhudzriy berkata: Bersabda Rasulloh s.a.w: Ketika dibai’at(diangkat imam) pada dua orang kholifah maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya (HR Muslim Kitaabul Imarah)
• BAGAIMANAKAH DENGAN DALIL YANG MENGATAKAN KEIMAMAN ITU HARUS DARI QURAISY
Dalil ini memang ada tapi dalil imam itu dari orang quresy tidaklah menyebabkan orang itu gugur kewajibanya mempunyai imam/boleh tidak punya imam, seandainya tidak ada imam dari quresy tetap kita harus mempunyai imam analogi dengan hal ini orang sholat itu harus membaca fatihah seandainya ada orang yang belum mampu baca fatihah karena tidak hafal dan buta huruf dia tetap harus sholat tidak berarti kewajiban sholatnya gugur karena tidak bisa baca fatihah. Terlebih dalam hadistpun disebutkan dimungkinkannya seseorang itu mempunyai imam yang bukan Quresy:
عن اَبِي ذرٍّ قَالَ: اِنَّ خَلِيْلِي اَوْصَانِيْ اَنْ اَسْمَعَ وَ اُطِيْعَ وَاِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ اْلاَطْرَافَ (رواه مسلم كتاب الامارة)
Artinya:
Dari abi dzar berkata: sesungguhnya kekasihku(Nabi Muhammad S.a.w) telah berwasiat padaku supaya saya mendengarkan dan mentaati pada imam meskipun yang menjadi imam itu budak sahaya yang cacat fisiknya. (HR Muslim Kitaabul Imarah hal 14)
.... يَقُولُ: اِنْ اُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَسِبْتُهَا قَالَتْ اَسْوَدُ يَقُوْدُكُمْ بِكِتَابِ الّلهِ فَاسْمَعُوْا لهُ وَاَطِيْعُوْا (رواه مسلم كتاب الامارة)
Artinya:
…..Nabi Bersabda: meskipun dijadikan imam atas kalian seorang hamba -(rowi mengomentari: Hamba yang hitam) –Tetapi dia menggiring pada kalian dengan kitabulloh maka dengarkanlah dia dan taatilah (HR Muslim Kitabul Imarah hal 15)
• BAGAIMANAKAH JIKA SEORANG IMAM BUKAN QURAISY TELAH DIBAI’AT LALU ADA ORANG QURAISY YANG FAHAM QUR’AN DAN SUNAH MUNCUL SETELAH IMAM ITU DIBAI’AT
Wahai kaum Muslimin, berdasarkan hadist2 shahih yang ada imam itu setelah dibai’at maka kedudukannya jadi imam terus sampai dia itu wafat atau sampai dia itu keluar dari islam (berarti batallah keimamannya),bahkan didalam hadist muslim tatkala nabi Isa nanti turun menjelang kiamat, Nabi Isapun tidak mau dan merasa tidak berhak menjadi imam sholat karena pada saat itu sudah ada keimaman di kalangan orang2 islam:
عن جَابِرَبْنَ ٍعَبْدِ الّلهِ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه صلي الله عليه و سلم يَقُولُ: لَاتَزالُ طَاءِفَةٌ مِنْ اُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَليَ اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ اِلَي يَوْمِ اْلقِياَمَةِ قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَي بْنُ مَرْيَمَ صلي الله عليه و سلم فَيَقُولُ اَمِيْرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُولُ لَا اِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَي بَعْضٍ اُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ الّلهِ هٰذِهِ اْلاُمَّةَ
(رواه مسلم كتاب الايْمَان :٩٥)
Artinya:
…Nabi s.a.w Bersabda:Tidak henti-hentinya segolongan dari umatku berperang (berjuang) diatas kebenaran dengan keadaan menang hingga hari Kiamat. Bersabda Nabi: maka turun Isa Ibnu Maryam maka imamnya mereka orang islam pada waktu itu berkata: kemarilah engkau Nabi Isa maka imamilah kami dalam sholat, maka Nabi Isa menjawab: Tidak/Jangan saya karena sesungguhnya sebagian kalian satu sama lain telah ada Imam2 yang mengatur(Umaro) dimana para umaro itu merupakan keharoman/kehormatannya ALLAH pada Umat ini.
• Bagaimanakah dengan orang yang mengatakan keimaman itu harus mempunyai kekuasaan/negara
Wahai saudaraku kaum Muslimin, imam itu tidak harus mempunyai kekuasaan apalagi negara,tapi imam itu diangkat berdasarkan bai’at /pengangkatan seseorang pada orang yang dijadikan Imam. Banyak dalil Qur’an dan hadist2 shahih mengenai ini mungkin di lain waktu akan ana sampaikan.
Sebagai gambaran banyak nabi2 dulu diangkat jadi nabi dan memimpin umat tidak mempunyai kekuasaan seperti:Nabi Ibrahim di usir Raja Namrud,Nabi Musa rajanya waktu itu fir’aun hingga Musa dikejar2, juga nabi Kita Muhammda s.a.w terusir dari Mekah karena yang mempunyai kekuasaan pada waktu itu Quresy, malah banyak umat zaman dahulu kufur pada nabi2 dengan alasan nabinya tidak mempunyai kekuasaan(tidak berkuasa).
• Bagaimanakah dengan dalil yang mengatakan orang itu tetap jamaah meskipun sendiri selama dia menetapi kebenaran(quran dan sunah)
Dalil tersebut Betul sekali meskipun seseorang itu sendirian disuatu tempat selama dia menetapi islam yang berbentuk jamaah(telah berbai’at pada imam/mempunyai imam) dia tetap seorang yang menetapi jama’ah, hal ini pernah terjadi di zaman Rasululloh s.aw. pada waktu itu ada seorang Raja di negeri Najasi (raja najasi) dia telah menyatakan dirinya islam pada Nabi meskipun didaerahnya dia sendirian ketika dia wafat nabi mensholatinya karena dia dihukumi Islam meskipun sendirian di negerinya.
Adanya ana mengemukakan dalil2 hanya dari Quran dan Hadist Bukhari Muslim saja agar kita yang tidak sependapat tidak terpancing membahas keshahihan hadist tetapi hanya focus pada matan / isi dari dalil2 yang ana kemukakan.
Disamping itu ana kuatir apabila ana mengemukakan hadist dari Tirmidzi, Nasai, Abu Daud dll kita yang tidak sependapat malah mendhoifkan hadist2 yang sudah dianggap shahih oleh Imam2 hadist tersebut.
Beberapa Tip Yang Mudah-mudahan Bermanfaat
1. Kita jangan sampai tertipu oleh angan2/prasangka sendiri dengan merasa sudah berjama’ah(ahlu sunah wal jam’ah) atau sudah menetapi kebenaran padahal kita tidak pernah mengangkat seseorang (dg Berbai’at) menjadi Imam.
2. Kita supaya mencari imam atau mengangkat seseorang dg dibai’at untuk menjadi imam kita, apabila di sekitar kita sudah ada keimaman yang menjalankan Quran dan Sunah supaya kita ikut berbai’at pada keimaman itu
3. Apabila kita sendirian dan merasa disekitar kita belum ada keimaman yang sesuai Quran dan Sunah supaya kita uzlah /memisahkan diri dari golongan2 yang ada karena berarti semua golongan disekitar kita itu firqoh2(Hadist buhori no 2 di atas),meskipun kita dalam memisahkan diri tersebut harus makan akar2an saja.
4. Dalam agama perbandingan golongan yang benar(firqatun najiyah) dengan yang sesat 1:banyak ,dengan kata lain yang sesat itu lebih banyak, kecuali diterangkan dalam Alhadist ketika zaman Nabi Isa ibnu Maryam Turun ke Dunia maka manusia umumnya akan beriman
5. Hati-hati kita dalam menetapkan suatu kebenaran dalam agama,ingat sabda Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan dalam shahih Muslim berikut:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه صلي الله عليه و سلم يَقُولُ: سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَومٌ اَحْدَثُ اْلاَسْنَان سُفَهَاءُ اْلاَحْلَام يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ اْلبَرِيَّة يَقْرَأُُوْنَ اْلقُرْآنَ لَا يُجاوِزُ حَناَجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ اْلدِّيْن كَمَا يَمْرُقُ اْلسَهْمُ مِنَ اْلرَّمِيَّةِ .....الحديث
(رواه مسلم كتاب الزكاة :١١٤)
Artinya:
Aku (Ali r.a) mendengar Rasulullah s.a.w Bersabda: Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum yang muda2 dan bodoh akalnya(tidak faham agama) berkata mereka dengan ucapan sebaik2nya manusia (logis,enak didengar dll) mereka membaca Alquran tetapi Alquran tidak masuk kedalam hatinya (tidak faham dan tidak mengamalkan isi Alquran) keluar mereka dari agama islam seperti menembusnya anak panah dari sasaran (tidak berbekas sama sekali …Alhadist) (HR Muslim Kitabu Zakat: Hal 114)
Termasuk dalam katagori tidak faham Alquran:
• Iman sebagian Alquran dan Kufur Pada sebagian lain(pilih-pilih ayat yang cocok dengan dirinya)
• Merubah2 maksud ayat dari maksud aslinya ayat Alquran
KESIMPULAN:
• MENETAPI QUR’AN dan SUNAH(KEBENARAN ) ITU BERARTI MENETAPI JAMAAH JUGA BERARTI BERIMAM JUGA DAN BERARTI BERBAI’AT JUGA
• KALAU KITA MEMPUNYAI IMAM KITA BISA MENJALANKAN PERINTAH ALLAAH DI Q.S ANNISA 59 UNTUK TAAT PADA ULIL AMRI
• DIDALAM AGAMA HARUS ADA KETAATAN KEPADA SESAMA MANUSIA,KALAU DULU LANGSUNG PADA NABI2 KALAU SEKARANG PADA IMAM2 YANG KITA BAI’AT SELAMA PERINTAH IMAM ITU TIDAK MAKSIAT
• BANYAK CERITA2 DI ALQUR’AN YANG MENJELASKAN MANUSIA BANYAK YANG KUFUR TERHADAP PERINTAH ALLAH UNTUK TAAT PADA SESAMA MANUSIA (TAAT PADA NABI2) GARA2 MANUSIA ITU MERASA ORANG YANG HARUS DIA TAATI ITU TIDAK LAYAK UNTUK DITAATI ATAU DIA MERASA LEBIH BAIK DARI ORANG YANG HARUS DIA TAATI TERSEBUT.CONTOH:
a. SEBAGIAN ORANG YAHUDI/NASRANI TIDAK MAU TAAT PADA RASULULLAH KARENA NABI MUHAMAD BERASAL DARI TURUNAN NABI IBRAHIM DARI ISTRI YANG HAMBA SAHAYA(SITI HAJAR) JADI DIA MERASA ORANG BANI ISRAIL LEBIH MULYA DARI TURUNAN ISMAIL(NABI MUHAMAD)
b. TATKALA ALLAH MENGANGKAT JALUT JADI PEMIMPIN BANYAK ORANG WAKTU ITU TIDAK MAU TAAT KARENA MERASA JALUT ITU ORANG YANG LEBIH RENDAH DARI DIRINYA (QS ALBAQARAH 247)
c. IBLIS TIDAK MAU TUNDUK PADA NABI ADAM KARENA DIA MERASA LEBIH BAIK DARI ADAM DIA DICIPTAKAN DARI API SAMUM SEDANGKAN ADAM DARI TANAH,IBLIS JUGA MERASA DIA LEBIH SENIOR KARENA SUDAH IBADAH PADA ALLAH BERIBU2 TAHUN SEBELUM NABI ADAM ADA.
d. DLL LAGI INSYA ALLAH AKAN KITA TEMUI JIKA KITA KAJI DIDALAM ALQUR’AN
firman ALLAH:
شَرَعَ لَكُمْ مِّن الدِّيْنِ مَا وصّيٰ بِه ى نُوحاً والذيۤ أوحيناۤ إليك وما وصّينابِهۤ إبرٰهيم و موسي و عيسيٰۤ أن أقيموا الدين ولا تتفرّقوا فيه كبر علي المشركين ما تدعوهم إليه...الاية الشوري:١٣
Artinya:
"Alloh telah memberikan syariat agama sama seperti yang telah diwasiatkan pada nabi Nuh sama seperti yang dawahyukan padamu (Muhamad) dan sama seperti yang diwasiatkan pada nabi Ibrahim,Musa, dan Isa yaitu supaya kalian menetapi agama dan jangan berpecahbelah (berfirqah2) didalam menjalankan agama, ajakan yang kamu serukan ini berat atas orang2 musyrik untuk menjalankannya...Al Ayat" (Q.S. Asy Syuura 13)
واعْتصموا بحبل الله جميعاً و لا تفرّقوا....الاية ال عمران:١٠٣
Artinya:
Berpegang teguhlah kalian pada agama ALLAH secara berjama’ah dan janganlah berpecahbelah (berfirqah2)….Al Ayat (Q.S. Ali Imran 103)
Didalam tafsir termashur diantaranya :tafsir jalalain dan ibnu Katsir kalimat jami’an dimaksudkan Alloh memerintahkan untuk berjama’ah. Ana akan kemukakan beberapa hadist yang menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan berjama’ah dan jangan berfirqah2:
١- كَانَتْ بَنُو اِسًَََرَاءِيلَ َتسُوْسُهُمُ اْلاَنِْبيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيُّ خَلَفَهُ نَبِيّ وَاِنَّهُ لاَ نَبِيّ بَعْدي وَستَكُوْنُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوْا فَمَا تَأمُرُنَا قَال فُوْا بَيْعَةَ اْلاوٌَل فاْلاوَّل واَعْطُوْهُمْ حَقَّهُمْ فَاِنَّ الله سَاءِلُهُمْ عَمَّا اْستَرْعَاهُمْ
رواه مسلم كتاب الامرة))
Artinya:
Yang mengatur/memimpin/membimbing kaum Bani Israil adalah Para Nabi, tatkala Nabi yang satu wafat maka menggantikan Nabi yang lain, dan bahwasannya tidak ada Nabi lagi sesudahku dan akan ada Khalifah2(Imam2) maka akan banyak mereka,Para Sahabat berkata: maka apa yang Rasulullah perintahkan pada kami(kalau sudah menjumpai zaman sesudah rasulullah dan banyaknya imam) tetapilah bai’at kalian yang pertama (pada imam yang paling awal) maka yang pertama dan penuhilah hak mereka imam (untuk diTaati) seungguhnya ALLAH akan meminta pertanggung jawaban pada mereka imam tentang pengaturan yang mereka lakukan pada ru’yahnya(jam’ahnya).(HR Muslim Kitabul Imarah)
٢. .....قال تَلْزَمُ جَمَاعَةَ اْلمُسْلِمِينَ وَ اِمَامَهُم قُلْتُ فَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلا اِمَامٌ قال فَاعْتَزِلْ تلك الفِرَقَ كُلَّها ولو اَنْ تَعَضَّ بِاَصْلِ شَجَرة حتَّى يُدْرِكَكَ اْلمَوْت وَ اَنْتَ علي ذلك
رواه بخاري كتاب المناقب))
Artinya:
…..Nabi Bersabda: Kamu supaya menetapi jama’ahnya orang islam dan imam mereka, berkata aku hudaifah : jika pada waktu itu tidak ada jama’ah dan tidak ada imam, Nabi Bersabda: Maka memisahkan dirilah engkau dari semua golongan2 itu (golongan yg tidak ada imam dan tdk berjam’ah) kamu harus memisahkan diri meskipun sampai2 engkau makan akarnya pohon sampai mati menjemputmu .(HR Bukhari Kitabul manakib)
لَيْسَ اَحَدٌ يُفَارِقُ اْلجَمَاعَة شِبْرًا فَيَمُوْت اِلََّا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً (رواه البخاري)
Artinya:
Tidak ada seorangpun yang memisahi jama’ah sejengkal(tidak berjamaah) maka mati dia berarti matinya dalam keadaan jahiliyah (HR Bukhari)
مَنْ كَرِهَ مِنْ اَمِيْرِهِ شَيأً فَلْيَصْبِرْ فَاِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَان شِبْراً مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيّةً
(رواه بخاري كتاب الفتن)
Artinya:
Barang Siapa yang membenci sesuatu dari imamnya maka supaya sabar karena siapapun yang keluar dari keimaman meski sejengkal maka mati dia dalam keadaan jahiliyah (HR Bukhary Kitabul fitan)
Wahai saudaraku kaum muslimin, dari dalil2 diatas menunjukan bahwa wajibnya kita mempunyai imam dan menetapi jama’ah ,menetapi jama’ah berarti mempunyai imam dan Taat pada aturan2 imam yang tidak maksiat, sehingga kita dapat melaksanakan perintah Allah di QS Annisa ayat 59:
يأۤۤيّها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول و أُولي الامر منكم...الاية
Artinya:
Hai orang2 beriman taatlah kalian pada ALLAH, Rasul dan yang mempunyai perkara kamu sekalian (imam) (Al Ayat Q.S. Annisa 59)
Dan dapat melaksanakan sabda rasulullah s.a.w:
عَلَي اْلمَرْءِ اْلمُسْلِمِ السَّمْعُ والْطَّاعَةُ فِيمَا اَحبَّ و كَرِهَ اِلَّا اَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَاِنْ اُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فلاَ سَمْعَ و لاَ طَاعَةَ
(رواه مسلم كتاب الامارة)
Artinya:
Wajib atas seorang muslim untuk mendengarkan dan Taat (pada imamnya) didalam semua perkara baik yang menyenangkan maupun membencikan kecuali diperintah utk berbuat maksiyat, maka jika diperintah (oleh imamnya) dengan maksiat maka janganlah mendengarkan dan Taat . (HR Muslim Kitabul Imarah)
Kesimpulan :
Wajibnya kita menetapi jama’ah dan berimam sampai2 seandainya disuatu tempat tidak ada imam dan jamaah maka orang itu harus uzlah memisahkan diri dari semua golongan disitu karena semua yang ada disitu berarti firqah2 bukan jama’ah (hadis Bukhari no 2 diatas),praktek harus memisahkan diri meskipun harus makan akar-akar pohon(terpencil sendirian dipedalaman hutan).
BEBERAPA KONTROVERSI TENTANG IMAMAH / KEIMAMAN
• MENENTUKAN KRITERIA IMAM MANAKAH YANG SAH PADA SAAT INI
Berdasarkan dalil berikut ,apabila disuatu wilayah ada dua atau lebih keimaman maka yang sah dari semuanya adalah yang pertama:
عن عَرفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه صلي الله عليه و سلم يَقُولُ: مَنْ أتاَكُمْ وَاَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ علي رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ اَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أوْ
يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَقْتُلُوهُ
(رواه مسلم كتاب الامارة)
Artinya:
Dari Arfajah berkata mendengar aku pada Rasululloh s.a.w bersabda: Barang siapa yang datang pada kalian sedangkan perkara kalian telah berkumpul atas seorang laki2(perkara agama sudah diatur oleh seorang imam),orang yang baru datang tersebut menghendaki untuk memecah perkumpulan kalian atau dengan kata lain menghendaki memcah jamah kalian maka bunuhlah orang tersebut.(HR Muslim Kitabul Imarah)
عن اَبِي سعيد الْخُدرِيُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّه صلي الله عليه و سلم: اِذَا بُوْيِِعَ لِخَلِفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا اْلاۤخَرَ مِنْهُمَا (رواه مسلم كتاب الامارة)
Dari Abi Said Alkhudzriy berkata: Bersabda Rasulloh s.a.w: Ketika dibai’at(diangkat imam) pada dua orang kholifah maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya (HR Muslim Kitaabul Imarah)
• BAGAIMANAKAH DENGAN DALIL YANG MENGATAKAN KEIMAMAN ITU HARUS DARI QURAISY
Dalil ini memang ada tapi dalil imam itu dari orang quresy tidaklah menyebabkan orang itu gugur kewajibanya mempunyai imam/boleh tidak punya imam, seandainya tidak ada imam dari quresy tetap kita harus mempunyai imam analogi dengan hal ini orang sholat itu harus membaca fatihah seandainya ada orang yang belum mampu baca fatihah karena tidak hafal dan buta huruf dia tetap harus sholat tidak berarti kewajiban sholatnya gugur karena tidak bisa baca fatihah. Terlebih dalam hadistpun disebutkan dimungkinkannya seseorang itu mempunyai imam yang bukan Quresy:
عن اَبِي ذرٍّ قَالَ: اِنَّ خَلِيْلِي اَوْصَانِيْ اَنْ اَسْمَعَ وَ اُطِيْعَ وَاِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ اْلاَطْرَافَ (رواه مسلم كتاب الامارة)
Artinya:
Dari abi dzar berkata: sesungguhnya kekasihku(Nabi Muhammad S.a.w) telah berwasiat padaku supaya saya mendengarkan dan mentaati pada imam meskipun yang menjadi imam itu budak sahaya yang cacat fisiknya. (HR Muslim Kitaabul Imarah hal 14)
.... يَقُولُ: اِنْ اُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَسِبْتُهَا قَالَتْ اَسْوَدُ يَقُوْدُكُمْ بِكِتَابِ الّلهِ فَاسْمَعُوْا لهُ وَاَطِيْعُوْا (رواه مسلم كتاب الامارة)
Artinya:
…..Nabi Bersabda: meskipun dijadikan imam atas kalian seorang hamba -(rowi mengomentari: Hamba yang hitam) –Tetapi dia menggiring pada kalian dengan kitabulloh maka dengarkanlah dia dan taatilah (HR Muslim Kitabul Imarah hal 15)
• BAGAIMANAKAH JIKA SEORANG IMAM BUKAN QURAISY TELAH DIBAI’AT LALU ADA ORANG QURAISY YANG FAHAM QUR’AN DAN SUNAH MUNCUL SETELAH IMAM ITU DIBAI’AT
Wahai kaum Muslimin, berdasarkan hadist2 shahih yang ada imam itu setelah dibai’at maka kedudukannya jadi imam terus sampai dia itu wafat atau sampai dia itu keluar dari islam (berarti batallah keimamannya),bahkan didalam hadist muslim tatkala nabi Isa nanti turun menjelang kiamat, Nabi Isapun tidak mau dan merasa tidak berhak menjadi imam sholat karena pada saat itu sudah ada keimaman di kalangan orang2 islam:
عن جَابِرَبْنَ ٍعَبْدِ الّلهِ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه صلي الله عليه و سلم يَقُولُ: لَاتَزالُ طَاءِفَةٌ مِنْ اُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَليَ اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ اِلَي يَوْمِ اْلقِياَمَةِ قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَي بْنُ مَرْيَمَ صلي الله عليه و سلم فَيَقُولُ اَمِيْرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُولُ لَا اِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَي بَعْضٍ اُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ الّلهِ هٰذِهِ اْلاُمَّةَ
(رواه مسلم كتاب الايْمَان :٩٥)
Artinya:
…Nabi s.a.w Bersabda:Tidak henti-hentinya segolongan dari umatku berperang (berjuang) diatas kebenaran dengan keadaan menang hingga hari Kiamat. Bersabda Nabi: maka turun Isa Ibnu Maryam maka imamnya mereka orang islam pada waktu itu berkata: kemarilah engkau Nabi Isa maka imamilah kami dalam sholat, maka Nabi Isa menjawab: Tidak/Jangan saya karena sesungguhnya sebagian kalian satu sama lain telah ada Imam2 yang mengatur(Umaro) dimana para umaro itu merupakan keharoman/kehormatannya ALLAH pada Umat ini.
• Bagaimanakah dengan orang yang mengatakan keimaman itu harus mempunyai kekuasaan/negara
Wahai saudaraku kaum Muslimin, imam itu tidak harus mempunyai kekuasaan apalagi negara,tapi imam itu diangkat berdasarkan bai’at /pengangkatan seseorang pada orang yang dijadikan Imam. Banyak dalil Qur’an dan hadist2 shahih mengenai ini mungkin di lain waktu akan ana sampaikan.
Sebagai gambaran banyak nabi2 dulu diangkat jadi nabi dan memimpin umat tidak mempunyai kekuasaan seperti:Nabi Ibrahim di usir Raja Namrud,Nabi Musa rajanya waktu itu fir’aun hingga Musa dikejar2, juga nabi Kita Muhammda s.a.w terusir dari Mekah karena yang mempunyai kekuasaan pada waktu itu Quresy, malah banyak umat zaman dahulu kufur pada nabi2 dengan alasan nabinya tidak mempunyai kekuasaan(tidak berkuasa).
• Bagaimanakah dengan dalil yang mengatakan orang itu tetap jamaah meskipun sendiri selama dia menetapi kebenaran(quran dan sunah)
Dalil tersebut Betul sekali meskipun seseorang itu sendirian disuatu tempat selama dia menetapi islam yang berbentuk jamaah(telah berbai’at pada imam/mempunyai imam) dia tetap seorang yang menetapi jama’ah, hal ini pernah terjadi di zaman Rasululloh s.aw. pada waktu itu ada seorang Raja di negeri Najasi (raja najasi) dia telah menyatakan dirinya islam pada Nabi meskipun didaerahnya dia sendirian ketika dia wafat nabi mensholatinya karena dia dihukumi Islam meskipun sendirian di negerinya.
Adanya ana mengemukakan dalil2 hanya dari Quran dan Hadist Bukhari Muslim saja agar kita yang tidak sependapat tidak terpancing membahas keshahihan hadist tetapi hanya focus pada matan / isi dari dalil2 yang ana kemukakan.
Disamping itu ana kuatir apabila ana mengemukakan hadist dari Tirmidzi, Nasai, Abu Daud dll kita yang tidak sependapat malah mendhoifkan hadist2 yang sudah dianggap shahih oleh Imam2 hadist tersebut.
Beberapa Tip Yang Mudah-mudahan Bermanfaat
1. Kita jangan sampai tertipu oleh angan2/prasangka sendiri dengan merasa sudah berjama’ah(ahlu sunah wal jam’ah) atau sudah menetapi kebenaran padahal kita tidak pernah mengangkat seseorang (dg Berbai’at) menjadi Imam.
2. Kita supaya mencari imam atau mengangkat seseorang dg dibai’at untuk menjadi imam kita, apabila di sekitar kita sudah ada keimaman yang menjalankan Quran dan Sunah supaya kita ikut berbai’at pada keimaman itu
3. Apabila kita sendirian dan merasa disekitar kita belum ada keimaman yang sesuai Quran dan Sunah supaya kita uzlah /memisahkan diri dari golongan2 yang ada karena berarti semua golongan disekitar kita itu firqoh2(Hadist buhori no 2 di atas),meskipun kita dalam memisahkan diri tersebut harus makan akar2an saja.
4. Dalam agama perbandingan golongan yang benar(firqatun najiyah) dengan yang sesat 1:banyak ,dengan kata lain yang sesat itu lebih banyak, kecuali diterangkan dalam Alhadist ketika zaman Nabi Isa ibnu Maryam Turun ke Dunia maka manusia umumnya akan beriman
5. Hati-hati kita dalam menetapkan suatu kebenaran dalam agama,ingat sabda Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan dalam shahih Muslim berikut:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه صلي الله عليه و سلم يَقُولُ: سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَومٌ اَحْدَثُ اْلاَسْنَان سُفَهَاءُ اْلاَحْلَام يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ اْلبَرِيَّة يَقْرَأُُوْنَ اْلقُرْآنَ لَا يُجاوِزُ حَناَجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ اْلدِّيْن كَمَا يَمْرُقُ اْلسَهْمُ مِنَ اْلرَّمِيَّةِ .....الحديث
(رواه مسلم كتاب الزكاة :١١٤)
Artinya:
Aku (Ali r.a) mendengar Rasulullah s.a.w Bersabda: Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum yang muda2 dan bodoh akalnya(tidak faham agama) berkata mereka dengan ucapan sebaik2nya manusia (logis,enak didengar dll) mereka membaca Alquran tetapi Alquran tidak masuk kedalam hatinya (tidak faham dan tidak mengamalkan isi Alquran) keluar mereka dari agama islam seperti menembusnya anak panah dari sasaran (tidak berbekas sama sekali …Alhadist) (HR Muslim Kitabu Zakat: Hal 114)
Termasuk dalam katagori tidak faham Alquran:
• Iman sebagian Alquran dan Kufur Pada sebagian lain(pilih-pilih ayat yang cocok dengan dirinya)
• Merubah2 maksud ayat dari maksud aslinya ayat Alquran
KESIMPULAN:
• MENETAPI QUR’AN dan SUNAH(KEBENARAN ) ITU BERARTI MENETAPI JAMAAH JUGA BERARTI BERIMAM JUGA DAN BERARTI BERBAI’AT JUGA
• KALAU KITA MEMPUNYAI IMAM KITA BISA MENJALANKAN PERINTAH ALLAAH DI Q.S ANNISA 59 UNTUK TAAT PADA ULIL AMRI
• DIDALAM AGAMA HARUS ADA KETAATAN KEPADA SESAMA MANUSIA,KALAU DULU LANGSUNG PADA NABI2 KALAU SEKARANG PADA IMAM2 YANG KITA BAI’AT SELAMA PERINTAH IMAM ITU TIDAK MAKSIAT
• BANYAK CERITA2 DI ALQUR’AN YANG MENJELASKAN MANUSIA BANYAK YANG KUFUR TERHADAP PERINTAH ALLAH UNTUK TAAT PADA SESAMA MANUSIA (TAAT PADA NABI2) GARA2 MANUSIA ITU MERASA ORANG YANG HARUS DIA TAATI ITU TIDAK LAYAK UNTUK DITAATI ATAU DIA MERASA LEBIH BAIK DARI ORANG YANG HARUS DIA TAATI TERSEBUT.CONTOH:
a. SEBAGIAN ORANG YAHUDI/NASRANI TIDAK MAU TAAT PADA RASULULLAH KARENA NABI MUHAMAD BERASAL DARI TURUNAN NABI IBRAHIM DARI ISTRI YANG HAMBA SAHAYA(SITI HAJAR) JADI DIA MERASA ORANG BANI ISRAIL LEBIH MULYA DARI TURUNAN ISMAIL(NABI MUHAMAD)
b. TATKALA ALLAH MENGANGKAT JALUT JADI PEMIMPIN BANYAK ORANG WAKTU ITU TIDAK MAU TAAT KARENA MERASA JALUT ITU ORANG YANG LEBIH RENDAH DARI DIRINYA (QS ALBAQARAH 247)
c. IBLIS TIDAK MAU TUNDUK PADA NABI ADAM KARENA DIA MERASA LEBIH BAIK DARI ADAM DIA DICIPTAKAN DARI API SAMUM SEDANGKAN ADAM DARI TANAH,IBLIS JUGA MERASA DIA LEBIH SENIOR KARENA SUDAH IBADAH PADA ALLAH BERIBU2 TAHUN SEBELUM NABI ADAM ADA.
d. DLL LAGI INSYA ALLAH AKAN KITA TEMUI JIKA KITA KAJI DIDALAM ALQUR’AN
Membela Al-Qur'an dan Al-Hadits
Membela Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Al-Qur'an adalah benda mati yang butuh pembelaan
Membela agama Alloh, bisa disebut juga dengan istilah lain, yaitu jihad fii sabiilillaah atau berjuang dengan kesungguhan hati baik lahir maupun bathin untuk menegakkan agama Alloh dengan cara mensyiarkan Al-Qur'an dan Al-Hadits dalam kondisi apapun, baik pada waktu kita sedang merasa ringan, senang atau pun berat.
Membela agama itu bisa dengan menggunakan tenaga, harta-benda, lisan, ataupun pikiran. Membela pakai tangan, dan atau tulisan Membela Al-Qur'an dan Al-Hadits pakai tangan dengan cara memberi makna dan keterangan Al-Qur'an dan Al-Hadits secara tertulis.
Menulis dalil-dalil atau do'a-do'a yang suatu saat nanti ketika kita atau teman dan atau orang lain sedang membutuhkannya kita bisa mencarinya dengan mudah, itu artinya kita telah membantunya untuk mengatasi satu masalah yang dianggap oleh orang lain berat, mungkin bagi kita adalah ringan, cuma dalil.. Padahal, orang lain sangat memerlukannya karena sedang berkaitan dengan masalah hukum yang menyangkut dalil. Nah, pada saat orang lain membutuhkan kita dan kita bisa membantunya maka itulah suatu perbuatan yang terpuji dan manfa'at baginya.
Bahkan bisa juga dengan menulis sebuah atau beberapa buah karya tulis tentang apa saja yang sekiranya dapat bermanfa'at bagi kita dan orang lain yang membacanya. Terlebih-lebih karya tulis tersebut didasari dengan referensi yang kuat berupa dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Al-Hadits. Masih banyak yang lain, membela agama dengan tangan atau tulisan Berkaca trhadap diri sendiri adalah hal bijaksana untuk kita lakukan,sebelum kita mempresisikn pd org lain. "krena barang siapa yg mengenal diriny.tentu ia akan sibuk memperbaikiny dngn tdk memperdulikan aib dan cacat org lain.dan brng siapa yg mengenal robbny tntu ia akan sibuk brkhidmat kpdNya dngn meninggalkn hawa nafsuny".
Hendakny kita tidak luruh dan tersibghan dngn kondisi zaman,dan selayakny kita tetap konsisten dngn akidah dan keimanan yg kita miliki,konsisten trhadap keyakinan bahwa Alloh dan Rasululloh SAW tmpt segala sesuatu persoalan kita kembalikan. Mari kita introspeksi diri dan menoleh kebelakang lagi. Sudah benarkah SYAHADAT kita,sesuaikah KEIMANAN kita dengan Al Qur'an dan AS SUNNAH (AL HADITS), benarkah MANHAJ dan HUKUM yg kita terapkan dlm kehidupan kita, Rasulullah SAW bersbda: "Iman dan amal adalah dua saudara yg saling menemani didalam persahabtan,Allah tdk menerima salah satu di keduanya kecuali dngn sahabatny"(Ibnu syahiin Fissunah An Ali).
"Iman itu adlh kepercayaan dalam hati,diucapkan dngn lisan,dan diamalkan dngn anggota".(HR.ibnu Majah). "Bukanlah iman itu sekedar cita-cita(angan-angan)saja,akan tetapi iman itu sesuai kepercayaan yg tetap dlm hati,dan dibuktikan dngn amal perbuatan".(HR.Dailami). Semoga kata2 ini bisa menjadi bahan renungan untuk berinstropeksi diri tentang keimanan,tentang manhaj,ataupun sikap yg seyogyany kita lakukan.Amin.
www.jokamig.blogspot.com
Membela agama itu bisa dengan menggunakan tenaga, harta-benda, lisan, ataupun pikiran. Membela pakai tangan, dan atau tulisan Membela Al-Qur'an dan Al-Hadits pakai tangan dengan cara memberi makna dan keterangan Al-Qur'an dan Al-Hadits secara tertulis.
Menulis dalil-dalil atau do'a-do'a yang suatu saat nanti ketika kita atau teman dan atau orang lain sedang membutuhkannya kita bisa mencarinya dengan mudah, itu artinya kita telah membantunya untuk mengatasi satu masalah yang dianggap oleh orang lain berat, mungkin bagi kita adalah ringan, cuma dalil.. Padahal, orang lain sangat memerlukannya karena sedang berkaitan dengan masalah hukum yang menyangkut dalil. Nah, pada saat orang lain membutuhkan kita dan kita bisa membantunya maka itulah suatu perbuatan yang terpuji dan manfa'at baginya.
Bahkan bisa juga dengan menulis sebuah atau beberapa buah karya tulis tentang apa saja yang sekiranya dapat bermanfa'at bagi kita dan orang lain yang membacanya. Terlebih-lebih karya tulis tersebut didasari dengan referensi yang kuat berupa dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Al-Hadits. Masih banyak yang lain, membela agama dengan tangan atau tulisan Berkaca trhadap diri sendiri adalah hal bijaksana untuk kita lakukan,sebelum kita mempresisikn pd org lain. "krena barang siapa yg mengenal diriny.tentu ia akan sibuk memperbaikiny dngn tdk memperdulikan aib dan cacat org lain.dan brng siapa yg mengenal robbny tntu ia akan sibuk brkhidmat kpdNya dngn meninggalkn hawa nafsuny".
Hendakny kita tidak luruh dan tersibghan dngn kondisi zaman,dan selayakny kita tetap konsisten dngn akidah dan keimanan yg kita miliki,konsisten trhadap keyakinan bahwa Alloh dan Rasululloh SAW tmpt segala sesuatu persoalan kita kembalikan. Mari kita introspeksi diri dan menoleh kebelakang lagi. Sudah benarkah SYAHADAT kita,sesuaikah KEIMANAN kita dengan Al Qur'an dan AS SUNNAH (AL HADITS), benarkah MANHAJ dan HUKUM yg kita terapkan dlm kehidupan kita, Rasulullah SAW bersbda: "Iman dan amal adalah dua saudara yg saling menemani didalam persahabtan,Allah tdk menerima salah satu di keduanya kecuali dngn sahabatny"(Ibnu syahiin Fissunah An Ali).
"Iman itu adlh kepercayaan dalam hati,diucapkan dngn lisan,dan diamalkan dngn anggota".(HR.ibnu Majah). "Bukanlah iman itu sekedar cita-cita(angan-angan)saja,akan tetapi iman itu sesuai kepercayaan yg tetap dlm hati,dan dibuktikan dngn amal perbuatan".(HR.Dailami). Semoga kata2 ini bisa menjadi bahan renungan untuk berinstropeksi diri tentang keimanan,tentang manhaj,ataupun sikap yg seyogyany kita lakukan.Amin.
www.jokamig.blogspot.com
Rabu, 12 Juni 2013
MENINGKATKAN SEMANGAT MENCARI ILMU DAN MENGAMALKANNYA
MENINGKATKAN SEMANGAT MENCARI ILMU
DAN MENGAMALKANNYA
الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ r وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ، أَمَّا بَعْدُ :
قُلْ إِنْ كَانَ أباَؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِه وَجِهَادٍ فِى سَبِيْلِه فَتَرَبَّصُوْا حَتّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِه وَاللهُ لاَ يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ * سورة التوبة ٢٤
Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta benda yang kalian usahakan, dan dagangan yang kalian khawatirkan akan rugi, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, (jika semuanya itu) lebih kalian cintai daripada Alloh dan RosulNya dan (daripada) berjihad dalam agama Alloh, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan perkara (siksa)Nya; karena Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.”
Besarnya cinta kita kepada Alloh dan RosulNya akan terukur dari sejauh mana pengorbanan yang kita berikan, ialah dalam wujud seberapa banyak waktu yang kita luangkan untuk mengerti tentang Alloh dan RosulNya, untuk mengerti tentang apa yang menjadi tuntunanNya, dan selanjutnya membuktikan dengan mengamalkannya. Apalagi kalau bukan mengkaji Al-Qur`an dan Hadits secara mendalam hingga mengerti, memahami dan sekaligus mengamalkan segala apa yang menjadi tuntunan dari Alloh dan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam.
Cinta yang sampai pada tahap inilah yang dijanjikan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam akan menemukan manisnya iman, itulah cinta yang sejati, cinta yang setiap orang iman harus memiliki, cinta yang pasti kan terbalas... ialah cinta kita kepada Alloh dan Rosululoh Shollallohu ‘alaihi wasallam.
Inilah cinta yang wajib diperjuangkan, yang wajib diprioritaskan di atas segala-galanya. Karena banyak orang telah salah meletakkan cintanya, mengakibatkan mereka memandang ilmu Al-Qur`an dan Hadits yang menjadi pedoman agamanya jauh di bawah segala macam ilmu duniawinya.
menjadi ‘alim terhadap ilmu Al-Qur`an dan Hadits, serta dipaparkan segala hal yang menjadi pertimbangan untuk mengutamakan menjadi ‘alim terhadap ilmu Al-Qur`an dan Hadits serta hal-hal yang melatarbelakanginya agar kita tidak salah dalam meletakkan cinta kita!
Latar Belakang
Alhamdulillah, sebenarnya banyak hal yang patut kita syukuri dalam hidup kita saat ini, semua kebutuhan, seperti; sandang, pangan, papan yang menjadi kebutuhan pokok bagi kita, cukup mudah kita dapatkan. Situasi yang relatif aman, sarana dan prasarana yang mendukung semua aktivitas, baik yang bersifat duniawi maupun ibadah tersedia dengan cukup, sehingga dengan semua itu memudahkan siapa saja untuk meraih sukses dalam kehidupannya, baik sukses dalam pendidikan maupun karirnya. Semua itu masih didukung dengan perkembangan dalam bidang teknologi yang membawa kita dalam kehidupan modern yang serba canggih, hal-hal yang dulu harus dilakukan dan didapatkan dengan susah payah, kini dengan kecanggihan teknologi menjadi mudah dilakukan, dan didapatkan hasil yang lebih memuaskan.
Di sisi lain kemajuan teknologi yang demikian pesat, kehidupan yang serba modern dan serba canggih itu ternyata juga membawa dampak negatif dalam kehidupan kita. Dampak negatif itu merampas nilai kehormatan kita, bahkan merobek-robek kertas putih fitrah suci kehidupan kita! Sarana-sarana maksiat dan perbuatan keji bertebaran dan disebarkan melalui berbagai media. Seakan sudah lumrah ketika terlihat sepasang muda-mudi yang dengan tanpa malu dan sungkan lagi melakukan perbuatan keji, perbuatan yang mendorong dan membangkitkan syahwat. Bahkan tanpa malu mereka melakukan perbuatan itu disaksikan oleh ribuan pasang mata...!
Lalu mungkinkah orang-orang iman, yang mereka adalah orang-orang yang bijaksana, di dalamnya adalah wanita-wanita yang menjaga kesucian diri akan membiarkan diri mereka, putra-putri mereka, tenggelam dalam kebinasaan limbah produksi tekhnologi canggih dan limbah kreasi peradaban modern? Tentu kita tidak rela kebinasaan itu menimpa diri kita maupun anak cucu kita.
Pengaruh-pengaruh inilah yang dampaknya dapat mengakibatkan menurunnya semangat jama’ah dalam mencari ilmu.
Menyadari akan besarnya bahaya dari pengaruh-pengaruh kemaksiatan ini maka menjadi ‘alim terhadap ilmu Al-Qur`an dan Hadits adalah satu satunya pilihan bagi keselamatan diri kita, dan sekali lagi ‘alim terhadap ilmu Al-Qur`an dan Hadits adalah satu-satunya pilihan dan tidak ada pilihan yang lain! Alloh telah mengungkapkan hal ini dalam firmannya :
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِباَدِهِ الْعُلَمَاؤُ إِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ * سورة فاطر ٢٨
Sebenarnya yang takut (melanggar perintah) Alloh dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun.
A. Pengaruh-pengaruh Yang Menurunkan Semangat Mencari Ilmu
Modernisasi dengan dampak negatif dari kemajuan teknologinya mengakibatkan terjadinya perubahan peradaban manusia, perubahan pola pikir, dan bergesernya nilai moral yang semua itu semakin menjauhkan umat manusia dari ajaran-ajaran dan hukum-hukum agama.
Saat ini yang perlu kita pikirkan bersama adalah bagaimana agar diri kita, anak cucu kita, orang tua kita, keluarga kita, semuanya bisa selamat dari semua kerusakan dan kemaksiatan itu dengan cara mewaspadai berbagai macam pengaruhnya.
1. Pengaruh pergaulan.
Telah menjadi petunjuk yang sering kali disampaikan melalui nasehat-nasehat dari para ulama` kita bahwa menjaga pergaulan adalah salah satu diantara lima syarat utama diperolehnya kefahaman Jama’ah. Hal ini menjadi begitu penting dan menentukan agar jama’ah terhindar dari pengaruh-pengaruh yang menurunkan semangat dalam mencari ilmu. Kita perhatikan sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam berikut ini:
اْلأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ * رواه البخارى عن عائشة
Ruh-ruh (semua hamba) bolo-membolo (saling berkumpul), ruh yang saling mengenal (karena kesamaan sifat) akan berkumpul dan ruh yang saling ingkar akan berselisih (berpisah).
Berdasarkan hadits diatas kita tahu bahwa hamba yang berthobiat baik akan berkumpul dan mendekat kepada hamba yang baik, dan sebaliknya hamba yang berthobiat buruk akan berkumpul dan mendekat kepada hamba yang berthobiat buruk pula. Hamba yang berthobiat baik tidak akan mungkin bisa tenang berkumpul dengan hamba yang berthobiat buruk.
Kita bisa mengambil pelajaran dari Luqman Al-Hakim yang berpesan kepada putranya :
يَابُنَيَّ جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ فَإِنَّ اللهَ يُحْيِى الْقُلُوْبَ بِنُوْرِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِى اللهُ اْلأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ * رواه مالك فى المواطأ
Wahai anakku temani duduklah ulama` dan desaklah mereka dengan kedua lututmu (selalu mendekat untuk meraih ilmu dari mereka), karena sesungguhnya Alloh akan menghidupkan hati dengan cahaya hikmah (yang diperoleh dengan ilmu dari ulama`) sebagaimana Alloh menghidupkan kembali bumi yang kering sebab turunnya hujan dari langit.
Mungkinkah orang yang faham akan tahan berkumpul bersama dengan orang-orang yang banyak berbuat maksiat karena mereka adalah orang-orang yang bodoh ilmu agamanya?
Tentu ia akan merasa resah dan gelisah tatkala berada di tengah-tengah mereka, bagaikan seekor ikan yang dipaksa mentas dan hidup di luar kolamnya!
Lebih jelas Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ * رواه أبو داود عن أبى هريرة
Seorang laki-laki itu menetapi kebiasaan teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.
Siapakah teman kita? Dialah yang akan menentukan siapa kita!
Menyadari akan hal ini, Shohabat Abu Tholhah sengaja minta kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam agar anak tirinya yaitu Anas bin Malik diidzinkan menemani dan melayani beliau hingga kurun waktu 10 tahun lamanya agar Anas di kemudian hari menjadi seorang yang ‘alim dan berkepribadian sebagaimana Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam.
Begitu besar pengaruh pergaulan, seseorang yang yang semula faham sekalipun akan bisa rusak dan hilang kefahamannya jika salah dalam memilih teman bergaul, apalagi jika dia bukan orang ‘alim dan salah memilih teman bergaul.
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam menggambarkan:
مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيْسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيْرِ الْحَدَّادِ لاَ يَعْدِمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيْهِ أَوْ تَجِدُ رِيْحَهُ وَكِيْرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيْثَةً * رواه البخارى عن أبى موسى
Perumpamaan teman bergaul yang sholih dan teman bergaul yang jelek adalah sebagaimana penjual minyak wangi dan ubupan (perapian) pandai besi. Penjual minyak wangi tidak akan melewati padamu, adakalanya kamu akan membeli minyak wangi itu darinya, atau (paling tidak) kamu akan mendapatkan bau wanginya. Dan (sedangkan) pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu atau (paling tidak) akan kamu dapatkan bau sangitnya.
Lalu siapakah yang menjadi teman kita? Siapakah yang menjadi teman bagi anak-anak kita? Dan siapakah yang menjadi teman bagi anggota keluarga kita? Apakah mereka adalah teman yang sholih? Atau justru sebaliknya?!
2. Pengaruh perkembangan ekonomi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor ekonomi begitu penting peranannya bagi kelangsungan hidup setiap umat manusia, sehingga adalah hal yang wajar ketika tiap orang mengharapkan bisa hidup dengan berkecukupan dan mempunyai taraf ekonomi yang baik dan mapan. Namun sayang ternyata faktor ekonomi, kerap kali menjadi alasan pembenaran bagi mereka yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari dunia dan tidak menyisakan waktu untuk mencari ilmu Al-Qur`an dan Hadits. Bagi jama’ah yang faham, ketika ia bisa hidup dengan berkecukupan dan mempunyai taraf ekonomi yang mapan maka kekayaan duniawi yang ia miliki akan banyak ia arahkan untuk kelangsungan pembelaan agamanya karena ia mengacu pada firman Alloh:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلى تِجَارَةٍ تُنجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ * تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِه وَتُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ * سورة الصف ١٠-١١
Wahai orang-orang yang beriman, maukah kalian Aku tunjukkan pada dagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari siksa yang pedih? Yaitu, kalian beriman kepada Alloh dan RosulNya, serta kalian berjuang membela agama Alloh dengan harta benda dan diri kalian. Yang demikian itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalisn hendak mengetahui (hakikat yang sebenarnya).
Juga mengacu pada sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
إِذاَ كاَنَ فِى آخِرِ الزَّمَانِ لاَ بُدَّ لِلنّاَسِ فِيْهَا مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّناَنِيْرِ يُقِيْمُ الرَّجُلُ بِهاَ دِيْنَهُ وَدُنْياَهُ * رواه الطبرانى فى الكبير عن عمران بن حصين
Ketika telah ada di dalam zaman akhir maka tidak bisa tidak (harus) bagi manusia yang hidup di zaman itu (menggunakan) dirham dan dinar untuk menegakkan agamanya dan (juga) dunianya.
Hendaklah kita waspada karena ternyata hasrat terhadap ekonomi yang secara kodrati telah dimiliki oleh setiap anak Adam akan muncul menjadi bumerang ketika tidak didasari dengan kefahaman agama yang cukup! Yaitu kefahaman agama yang diraih melalui penguasaan Qur`an dan Hadits. Sebab jika tidak, maka hasrat itu akan menjadi liar dan dari situlah muara segala macam bentuk kesalahan akan dilakukan.
Hal ini telah diisyaratkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:
حُبُّ الدُّنْياَ رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ * رواه البيهقى عن الحسن
Senang (yang berlebihan) terhadap dunia adalah pangkal dari segala kesalahan.
Tidak sedikit orang berdusta, khianat, serta hilang sifat amanatnya karena berawal dari rasa senang dan nggrangsangnya pada harta dunia. Bahkan orang yang telah dianggap alim pun akan terseret ke dalamnya ketika pangkal segala kesalahan ini ia abaikan.
Dan salah satu alasan kenapa ia sampai mengabaikan pangkal segala kesalahan ini adalah karena ia tidak meneladani sifat zuhud yang telah diwariskan oleh Rosululoh Shollallohu ‘alaihi wasallam.
Almarhum KH. Nurhasan Al-Ubaidah pernah menyebut sebuah istilah dalam nasehatnya : “Ojo ongso-ongso, koyo cacing nguntal klopo, ora kuntal malah bongko.”
Ini adalah sebuah peringatan agar kita tidak tamak akan harta.
Ingatlah firman Alloh :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا َيَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُوْرُ* إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُوْ حِزْبَه لِيَكُوْنُوْا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ * سورة فاطر ٥-٦
Wahai umat manusia, sesungguhnya janji Alloh (membalas amal kalian) adalah benar maka janganlah kalian tertipu daya oleh kemewahan hidup dunia, dan janganlah syetan yang menjadi penipu terbesar itu memperdayakan kalian meninggalkan tho’at pada Alloh. Sesungguhnya syetan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia musuh (yang mesti dijauhi tipu dayanya); sebenarnya dia hanyalah mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka Sa’ir.
B. Akibat Kurangnya/Hilangnya Ilmu
Ketika umat manusia disibukkan oleh segala macam persoalan duniawi dan ia pun berani menomorduakan masalah akhirat, maka muncullah sebuah generasi yang begitu mahir dan membanggakan ilmu dunianya namun ia bodoh terhadap ilmu agama, dan ketahuilah bahwa terhadap generasi semacam inilah Alloh akan menjatuhkan murkanya!
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ اللهَ تَعاَلىَ يَبْغَضُ كُلَّ عاَلِمٍ باِلدُّنْياَ جاَهِلٍ باِْلأَخِرَةِ * رواه الحاكم عن أبى هريرة
Sesungguhnya Alloh yang maha luhur murka pada tiap-tiap orang yang pandai ilmu dunia yang bodoh dalam ilmu akhirat.
Dan orang yang seperti ini Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam menggambarkan sebagai pribadi yang teramat buruk. Beliau bersabda :
إِنَّ اللهَ يَبْغَضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فِى اْلأَسْواَقِ جِيْفَةٍ باِللَّيْلِ حِماَرٍ باِلنَّهاَرِ، عاَلِمٍ باِلدُّنْياَ جاَهِلٍ بِاْلأَخِرَةِ * رواه البيهقى
Sesungguhnya Alloh akan murka kepada tiap-tiap orang yang keras hatinya lagi sombong, orang yang senang ramai (bertengkar) di pasar, seperti bangkai di malam hari (karena tidak sholat malam), seperti khimar di siang hari (karena hanya memikirkan makan), pandai ilmu dunia namun bodoh ilmu akhirat.
Dan ketika ulama` sebagai pewaris ilmu para nabi satu demi satu wafat, sebelum ada generasi penerus yang lebih dulu mewarisi ilmunya, maka seiring dengan berpulangnya para ulama` menghadap kepada Alloh, berpulang pulalah kebenaran ilmu Al-Qur`an dan Hadits ini, dan ini sungguh akan berakibat sangat fatal bagi keselamatan kita seluruh umat manusia yang hidup di permukaan bumi ini! Karena yang akan menjadi pemimpin kita tinggal orang-orang yang bodoh lagi hina. Sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا * رواه البخارى عن عبد الله بن عمرو بن العاص
Sesungguhnya Alloh tidak akan mencabut ilmu dengan cara mencabut ilmu itu dari hamba-hambanya, akan tetapi Alloh mencabut ilmu itu dengan cara mewafatkan para ulama`, sehingga ketika tidak ada seorang ‘alim pun yang tersisa maka manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka, lalu ketika pemimpin yang bodoh itu ditanya maka mereka akan memberi fatwa dengan tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.
Hilangnya ilmu ternyata bukan saja berakibat buruk pada agama namun juga berakibat buruk pada urusan-urusan dunia, sebagaimana pesan yang pernah disampaikan oleh seorang ahli hadits :
عَنِ الزُّهْرِيِّ كاَنَ مَنْ مَضَى مِنْ عُلَمَاءٍ يَقُوْلُوْنَ اْلإِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ وَالْعِلْمُ يُقْبَضُ قَبْضًاسَرِيْعًا فَنَعْشُ الْعِلْمِ ثَبَاتُ الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَفِى ذِهَابِ الْعِلْمِ ذِهَابُ ذَالِكَ كُلِّهِ * رواه الدارمى
Dari Zuhri (ia berkata) : adalah para ulama` salaf mereka berkata, “Berpegang teguh terhadap sunnah adalah keselamatan. Ilmu itu akan digenggam dengan cepat, maka menegakkan ilmu itu akan menetapkan agama dan dunia, dan didalam hilangnya ilmu adalah hilangnya semua (agama dan dunia).”
C. Polnya Ilmu Al-Qur`an dan Hadits
Keagungan dan kemuliaan Alloh sebagai Sang Pencipta alam semesta tak terbandingi oleh apapun, karena pada hakekatnya semua yang selain Alloh adalah makhluq, demikian pula dengan kalam Alloh yang mengalahkan sya`airul kalam, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
فَضْلُ الْقُرْأنِ عَلَى ساَئِرِ الْكَلاَمِ كَفَضْلِ الرَّحْمنِ عَلَى ساَئِرِ خَلْقِهِ * رواه البيهقى عن أبى هريرة
Keutamaan ilmu Al-Qur`an mengalahkan semua kalam sebagaimana keutamaan Alloh mengalahkan semua makhluqnya.
Sebaliknya jika seseorang menganggap semua ilmu dunia itu lebih utama dan lebih mulia daripada Al-Qur`an dan Hadits maka itu adalah sebuah kemaksiatan kepada Alloh! Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَمَنْ قَرَأَ الْقُرْأنَ فَرَأَى أَنَّ أَحَدًا أُعْطِيَ أَفْضَلَ مِمَّا أُعْطِيَ فَقَدْ عَظَّمَ ماَ صَغَّرَ اللهُ وَصَغَّرَ ماَ عَظَّمَ اللهُ * رواه الطبرانى
Dan barangsiapa membaca Al-Qur`an lalu ia menganggap bahwa ada seseorang yang telah diberi sesuatu yang lebih utama daripada (Al-Qur`an) yang telah diberikan kepadanya maka sungguh ia telah mengagungkan sesuatu yang diremehkan oleh Alloh dan ia telah meremehkan pada sesuatu yang telah diagungkan oleh Alloh.
Oleh karena itulah Alloh mengangkat derajat orang iman yang ‘alim, sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur`an:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ * سورة المجادلة ١١
Alloh mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian, dan orang-orang yang diberi ilmu (dari kalangan kalian), beberapa derajat. Dan (ingatlah), Alloh Maha Waspada tentang apa yang kalian lakukan.
Marilah kita simak bagaimana Al-Imam Al-hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqolani menjelaskan dalam kitabnya “Fathul Baari : syaroh Shohih Bukhori” tentang sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam yang berbunyi:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ ... الحديث * رواه البخارى عن معاوية
Barangsiapa yang Alloh menghendaki kebaikan padanya maka Alloh menjadikannya faham/ahli dalam agama.
Penjelasan itu sbb:
وَمَفْهُوْمُ الْحَدِيْثِِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِى الدّيْنِ ، أَيْ يَتَعَلَّمَ قَوَاعِدَ اْلإِسْلاَمِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوْعِ ، فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ * فتح البارى شرح صحيح البخارى
Yang tersirat dalam hadits ini, dapat dipahami bahwa sesungguhnya orang yang tidak memahami ilmu agama − yaitu orang yang tidak mempelajari dasar-dasar/pokok-pokok Islam dan apa-apa yang terkait dengannya dari masalah furu’iyah − maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan.
Kalau sudah dinyatakan bahwa tanpa faham dan mengerti terhadap Qur`an dan Hadits tidak akan bisa takut kepada Alloh dan tidak akan mendapatkan kebaikan dari Alloh, lalu... siapalagi yang lebih berhak kita takuti selain Alloh? Dan kebaikan apalagi yang lebih kita harapkan selain surga Alloh?
D. Kefadlolan Mencari Illmu dan Menjadi ‘Alim
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika jalan hidup yang dilaluinya di muka bumi ini Alloh menghitungnya sebagai jalan surga yang sedang dilalui? Jalan surga itu didapat oleh orang-orang yang mencari ilmu Al-Qur`an dan Hadits.
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika dirinya serta anak cucunya menjadi orang yang dicintai oleh Allah, dicintai oleh semua malaikat penghuni langit dan bumi ? Cinta itu didapat oleh orang-orang yang mencari ilmu Al-Qur`an dan Hadits.
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika dimintakan ampun oleh semua penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang ada di dalam air?
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika mendapatkan keutamaan dari Alloh mengalahkan hamba-hamba yang lain, Sebagaimana cahaya bulan di malam purnama mengalahkan cahaya semua bintang di langit? Keutamaan itu didapat oleh orang-orang yang ahli ilmu, bukan orang lain.
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika dijadikan sebagai pewaris para nabi, manusia terpilih yang paling dekat dengan Alloh di muka bumi ini? Pewaris itu adalah orang-orang yang ‘alim (ahli ilmu), bukan orang lain!
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِى اْلأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ ، وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِينَارً وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ * رواه ابن ماجه
Barangsiapa yang melewati sebuah jalan, ia mencari ilmu di jalan itu, maka Alloh menjalankannya di salah satu jalan-jalan surga. Dan sesungguhnya niscaya ada malaikat yang meletakkan/merapatkan sayapnya karena ridlo terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang alim niscaya dimintakan pengampunan oleh penghuni langit, penghuni bumi dan juga ikan-ikan yang ada di dalam air. Dan sesungguhnya, keutamaan orang yang ‘alim mengalahkan orang yang ahli ibadah (tetapi tidak alim) sebagaimana keutamaan cahaya bulan purnama yang mengalahkan semua cahaya bintang di langit. Dan sesungguhnya ulama` adalah pewaris para nabi, yang para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, namun mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambil ilmu itu berarti ia telah mengambil bagian yang sempurna!
Sebagian orang merasa, kesibukannya dalam menuntut ilmu Al-Qur`an dan Hadits akan mengurangi kesempatannya untuk membantu dalam meringankan maisyah keluarganya. Namun sebenarnya justru dengan kesibukannya dalam menuntut ilmu Al-Qur`an dan Hadits, Alloh mencurahkan banyak kebarokahan, baik terhadap dirinya maupun keluarganya. Hal ini pernah dialami oleh dua orang bersaudara yang hidup pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ r فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِى النَّبِيَّ r وَالأَخَرُ يَحْتَرِفُ فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ r فَقَالَ لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ * رواه الترمذى
Dari Anas bin Malik Ia berkata : ada dua orang bersaudara pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam, salah satunya datang (mengaji) kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, sedangkan yang lain bekerja. Maka yang bekerja itu melaporkan tentang saudaranya kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, maka Nabi bersabda, “Barang kali kamu diberi rizqi (oleh Alloh) lantaran saudaramu.”
Bagaimana hati kita tidak tergerak untuk membawa anak kita dan mengantarkannya menjadi seorang ulama` kalau ternyata Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam menjamin mahkota akan diberikan kepada kita saat menghadap di sisi Alloh di hari kiamat nanti?
Sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
مَنْ قَرَأَ الْقُرْأنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيْهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِى بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيْكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِى عَمِلَ بِهذَا * رواه أبو داود
Barangsiapa membaca Al-Qur`an dan mengamalkan isinya, maka diberikanlah mahkota bagi kedua orang tuanya. Terangnya sinar mahkota itu lebih baik daripada terangnya sinar matahari di rumah dunia. Seandainya matahari itu ada di rumah kalian, lalu bagaimanakah persangkaan kalian terhadap orang yang mengamalkannya? (Jawab: tentu akan mendapatkan kedudukan yang lebih mulia dari pada orang tuanya!)
Dalam istilah Jawa disebutkan : “Dadi rojo gung binatoro kajen keringan nganggur ngetekur urip langgeng sak lawas-lawase.” Itu semua lantaran anak kita menjadi ulama`!!!
Dari semua uraian diatas, maka sungguh perlu kiranya bagi setiap orang tua jama’ah mempertimbangkan dengan sangat! Dalam membina putra-putrinya, agar menyisihkan waktu bagi putra-putrinya barang satu tahun untuk pergi mondok guna membekali ilmu yang luhur, yaitu mengerti Qur`an dan Hadits, dan alangkah akan lebih baik lagi jika sampai menjadi muballigh muballighot, hingga setiap putra-putri jama’ah mempunyai bekal dan modal yang cukup sebagai benteng pertahanan yang kuat bagi dirinya dalam menghadapi gencarnya pengaruh-pengaruh kemaksiatan dalam kehidupan kita di akhir zaman ini.
Dan bekal apakah yang lebih baik yang telah kita berikan pada anak-anak kita untuk menghadapi kerusakan zaman ini selain Qur`an dan Hadits? selain menjadikan mereka ulama`-ulama` yang faqih? Yang dengannya Alloh menjamin ketaqwaannya? Yang dengan ketaqwaan inilah Alloh memasukkan ke dalam surga.
Sebagaimana telah dituangkan dalam firman Alloh :
وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى وَاتَّقُوْنِى يَاأُولِى اْلأَلْبَابِ * سورة البقرة ١٩٧
Dan hendaklah kalian mempersiapkan bekalmu, karena sesungguhnya sebaik-baiknya bekal ialah taqwa; dan bertaqwalah kepadaKu wahai orang-orang yang berakal.
Dan dengan taqwa inilah maka surga bisa kita raih karena hal ini merupakan janji dari Alloh, sebagaimana telah dimuat dalam Al-Qur`an :
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِى وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ * سورة الرعد ٣٥
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa itu ialah air sungai-sungainya senantiasa mengalir di sekitar tamannya, makanannya kekal tidak putus-putus dan naungannya senantiasa teduh. Itulah kesudahan usaha orang-orang yang bertaqwa, sedang kesudahan usaha orang-orang yang kafir ialah neraka.
Atau, masihkah kita akan menjadikan ke’aliman sebagai alternatif terakhir? Yang berarti keselamatan kita dan anak cucu kita dari segala kerusakan zaman ini pun akan kita jadikan sebagai alternatif terakhir pula?
Tentu saja kita akan berkata tidak!!! Karena itu berarti akan membiarkan kemungkaran-kemungkaran itu berjalan hingga memudlorotkan kita dan anak cucu kita, yang membiarkannya berarti jauh dari hakikat keimanan yang ada dalam diri kita! Hal ini dengan jelas Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذاَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ * رواه مسلم عن أبى سعيد
Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubah kemungkaran itu dengan menggunakan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan menggunakan lisannya, jika ia tidak mampu maka menggunakan hatinya, dan mengubah dengan hati itu adalah iman yang paling lemah.
Maka membentengi diri kita dan anak cucu kita dari semua kemungkaran yang ada dengan segala kemampuan yang kita miliki adalah mutlak kita lakukan, siapa lagi yang akan melakukannya kalau bukan kita sendiri? Karena bukanlah orang lain yang akan merubah keadaan pada diri kita, yang menentukan warna hitam atau putihnya hidup kita, akan tetapi dengan idzin Alloh kita sendirilah yang akan merubah dan menentukannya!
Alloh telah berfirman :
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنفُسِهِمْ ... الأية * سورة الرعد أية ١١
Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu mau mengubah pada keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
E. Kewajiban Mencari Ilmu dan Mengamalkan
Islam adalah agama samawi, agama yang segala tuntunan ibadahnya telah ditetapkan oleh Alloh Sang Kholiq Pencipta langit dan bumi, oleh karenanya hamba akan bisa mengenal Alloh sebagai Tuhannya untuk kemudian mengenal tuntunan ibadahnya dengan mengikuti petunjukNya bukan dengan cara mengikuti reka-reka fikirannya sendiri. Lalu agar hamba mengenal Tuhannya untuk selanjutnya mengikuti tuntunan ibadahnya maka Alloh pun berfirman :
فَاعْلَمْ أَنَّه لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ... الأية * سورة محمد ١٩
Ketahuilah (wahai Muhammad) sesungguhnya tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Alloh,
Berdasarkan ayat ini, agar bisa mengetahui serta meyakini dengan sebenarnya tentang hakikat keesaan Alloh, maka berilmu menjadi perintah utama dari Alloh, yang berarti tanpa ilmu maka mustahil pengetahuan, keyakinan pada kebenaran hakekat keesaan Alloh itu bisa diraih!
Maka inilah alasan mengapa menuntut ilmu Al-Qur`an dan Hadits diwajibkan kepada setiap muslim, sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ... الحديث * رواه ابن ماجه عن أنس بن مالك
Mencari ilmu itu wajib bagi tiap-tiap orang Islam.
Dan bagi orang yang telah mengerti dan memahami ilmunya ia berkewajiban mengamalkan ilmunya. Mengingat firman Alloh :
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِى أُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُوْنَ * سورة الزخرف 72
Dan (dikatakan lagi kepada ahli surga), “Surga yang diwariskan kepada kalian itu, disebabkan apa yang telah kalian amalkan.”
Surga dengan beberapa derajat yang ada di dalamnya hanya diberikan kepada orang yang mengamalkan ilmunya, hal ini berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut :
Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى ماَ كَانَ مِنَ الْعَمَلِ * رواه البخارى
Alloh akan memasukkannya ke dalam surga menurut banyaknya amal (ibadah yang telah ia kerjakan).
Firman Alloh:
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوْا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُوْنَ * سورة الأحقاف 19
Dan bagi masing-masing (akan mendapatkan) derajat yang sesuai dengan amalan mereka, dan supaya Allah menetapi amalan mereka, sedang mereka tidak dianiaya.
وَالْعَصْرِ * إِنَّ اْلإِنسَانَ لَفِى خُسْرٍ * إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ * سورة العصر 1-3
Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan mereka saling wasiat pada kebenaran serta mereka saling wasiat tentang sabar.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنِ آمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لاَ تَفْعَلُوْنَ * كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُوْلُوْا مَا لاَ تَفْعَلُوْنَ * سورة الصف ٢-٣
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian amalkan! Amat besar kebenciannya di sisi Allah apabila kalian mengatakan apa yang tidak kalian amalkan!
Kemudian diperkuat oleh sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَاباً يَوْمَ الْقِياَمَةِ عاَلِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ * رواه الطبرانى فى الصغير عن أبى هريرة
Manusia yang paling berat siksanya di hari kiamat nanti ialah orang yang berilmu yang tidak bermanfaat ilmunya.
F. Upaya-Upaya Meningkatkan Semangat Mencari Ilmu
Mengingat demikian pentingnya mempelajari dan mendalami Al-Qur`an dan Hadits bagi kita, sementara begitu besar dampak negatif perkembangan teknologi mempengaruhi kesemangatan dalam mencari ilmu Al-Qur`an dan Hadits, maka diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan semangat jama’ah dalam mencari ilmu. Upaya-upaya itu antara lain :
1. Memanfaatkan waktu.
Marilah kita perhatikan dengan seksama, dari waktu demi waktu yang kita lalui, seberapa banyakkah yang kita pergunakan untuk ibadah kepada Alloh, dan seberapa banyakkah yang kita buang percuma? Untuk nonton televisi, menyaksikan film-film cerita, duduk-duduk bersama teman-teman dengan membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Maupun untuk hal-hal lain yang bersifat lahan-lahan.
Sungguh sangat beruntung jika waktu yang kita miliki dalam hidup yang sangat terbatas ini lebih banyak kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, baik bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Dan menggunakan waktu kita untuk mendalami Al-Qur`an dan Al-Hadits adalah pilihan yang paling tepat. Toh waktu jika tidak kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat akan merugikan kita, ingat bahwa waktu yang telah berlalu tak akan kembali lagi, bagaikan senjata makan tuan, sebagai mana kata pepatah :
الْوَقْتُ كاَلسَّيْفِ مَنْ لَمْ يَقْطَعْ يُقْطَعْ *
“Waktu itu sebagaimana pedang, barangsiapa yang tidak menggunakannya (untuk hal-hal yang bermanfaat) maka pedang itu akan memotongnya.”
2. Motivasi.
Ada sebuah kisah nyata, seorang cabe rawit yang sedang duduk di samping ayahnya, lalu sang ayah berkata, “Le anakku, kalau kamu telah dewasa nanti ayah akan bangga ketika dapat menyaksikan kamu berhasil meraih sukses dalam karirmu. Tapi ayah akan lebih bangga lagi kalau kamu juga menjadi muballigh bahkan kalau kamu bisa, jadilah gurunya mubaligh, karena dengan kamu jadi mubaligh kelak akan menjadi celengan (tabungan) bagi orang tuamu di hadapan Alloh pada hari kiamat nanti.” Kini cabe rawit itu telah beranjak dewasa, lantaran dorongan semangat dari orang tuanya ia pun berhasil menjadi muballigh, gurunya muballigh, bisa meraih gelar sarjana serta sebagai pengusaha.
Cerita ini menunjukkan bahwa motivasi dari orang tua begitu besar pengaruhnya bagi kesemangatan mencari ilmu.
Maka perlu bagi orang tua, pengurus, penasehat dalam Jama’ah, memberikan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan yang dapat memotivasi generasi penerus untuk bersemangat mencari ilmu, jadi muballigh, jadi ulama` di dunia dan akhirat.
Sebagaimana dikehendaki oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ مِنَ الْبَياَنِ لَسِحْراً * رواه أبو داود
Sesungguhnya sebagian dari keterangan itu bisa menyihir (merubah keadaan).
Disamping itu masih ada upaya-upaya lain yang mungkin dapat menambah kesemangatan didalam mencari ilmu.
Hendaklah dimengerti oleh semua jama’ah bahwa menjadi ahli ilmu yang merupakan perintah dari Alloh dan demikian luhur derajatnya di sisi Alloh itu tidaklah cukup hanya dengan mengerti dan menguasai Qur`an dan Hadits saja. Namun lebih dari itu wajib mengamalkannya, maka orang seperti inilah yang disebut ‘alim, sebagaimana diriwayatkan dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
وَالْعاَلِمُ الَّذِى يَعْمَلُ * رواه أبو الشيخ
Dan orang yang ‘alim adalah yang mengamalkan ilmunya.
Akhirnya kita berdo’a semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menyentuh hati semua warga Jama’ah yang mendengar dan membaca makalah ini hingga mampu memberi semangat pada dirinya maupun anak-anaknya untuk mencari ilmu, meraih predikat sebagai hamba Alloh yang ahli ilmu, semangat dan merasa mulia menyandang predikat sebagai muballigh muballighot yang faqih, karena itulah predikat yang mulia di sisi Alloh. Amin.
Semoga Qur`an Hadits Jama’ah senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Alloh, hingga semua jama’ah bersama-sama masuk ke dalam surga Alloh selamat dari neraka Alloh. Amin.
DAN MENGAMALKANNYA
الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ r وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ، أَمَّا بَعْدُ :
قُلْ إِنْ كَانَ أباَؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِه وَجِهَادٍ فِى سَبِيْلِه فَتَرَبَّصُوْا حَتّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِه وَاللهُ لاَ يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ * سورة التوبة ٢٤
Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta benda yang kalian usahakan, dan dagangan yang kalian khawatirkan akan rugi, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, (jika semuanya itu) lebih kalian cintai daripada Alloh dan RosulNya dan (daripada) berjihad dalam agama Alloh, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan perkara (siksa)Nya; karena Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.”
Besarnya cinta kita kepada Alloh dan RosulNya akan terukur dari sejauh mana pengorbanan yang kita berikan, ialah dalam wujud seberapa banyak waktu yang kita luangkan untuk mengerti tentang Alloh dan RosulNya, untuk mengerti tentang apa yang menjadi tuntunanNya, dan selanjutnya membuktikan dengan mengamalkannya. Apalagi kalau bukan mengkaji Al-Qur`an dan Hadits secara mendalam hingga mengerti, memahami dan sekaligus mengamalkan segala apa yang menjadi tuntunan dari Alloh dan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam.
Cinta yang sampai pada tahap inilah yang dijanjikan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam akan menemukan manisnya iman, itulah cinta yang sejati, cinta yang setiap orang iman harus memiliki, cinta yang pasti kan terbalas... ialah cinta kita kepada Alloh dan Rosululoh Shollallohu ‘alaihi wasallam.
Inilah cinta yang wajib diperjuangkan, yang wajib diprioritaskan di atas segala-galanya. Karena banyak orang telah salah meletakkan cintanya, mengakibatkan mereka memandang ilmu Al-Qur`an dan Hadits yang menjadi pedoman agamanya jauh di bawah segala macam ilmu duniawinya.
menjadi ‘alim terhadap ilmu Al-Qur`an dan Hadits, serta dipaparkan segala hal yang menjadi pertimbangan untuk mengutamakan menjadi ‘alim terhadap ilmu Al-Qur`an dan Hadits serta hal-hal yang melatarbelakanginya agar kita tidak salah dalam meletakkan cinta kita!
Latar Belakang
Alhamdulillah, sebenarnya banyak hal yang patut kita syukuri dalam hidup kita saat ini, semua kebutuhan, seperti; sandang, pangan, papan yang menjadi kebutuhan pokok bagi kita, cukup mudah kita dapatkan. Situasi yang relatif aman, sarana dan prasarana yang mendukung semua aktivitas, baik yang bersifat duniawi maupun ibadah tersedia dengan cukup, sehingga dengan semua itu memudahkan siapa saja untuk meraih sukses dalam kehidupannya, baik sukses dalam pendidikan maupun karirnya. Semua itu masih didukung dengan perkembangan dalam bidang teknologi yang membawa kita dalam kehidupan modern yang serba canggih, hal-hal yang dulu harus dilakukan dan didapatkan dengan susah payah, kini dengan kecanggihan teknologi menjadi mudah dilakukan, dan didapatkan hasil yang lebih memuaskan.
Di sisi lain kemajuan teknologi yang demikian pesat, kehidupan yang serba modern dan serba canggih itu ternyata juga membawa dampak negatif dalam kehidupan kita. Dampak negatif itu merampas nilai kehormatan kita, bahkan merobek-robek kertas putih fitrah suci kehidupan kita! Sarana-sarana maksiat dan perbuatan keji bertebaran dan disebarkan melalui berbagai media. Seakan sudah lumrah ketika terlihat sepasang muda-mudi yang dengan tanpa malu dan sungkan lagi melakukan perbuatan keji, perbuatan yang mendorong dan membangkitkan syahwat. Bahkan tanpa malu mereka melakukan perbuatan itu disaksikan oleh ribuan pasang mata...!
Lalu mungkinkah orang-orang iman, yang mereka adalah orang-orang yang bijaksana, di dalamnya adalah wanita-wanita yang menjaga kesucian diri akan membiarkan diri mereka, putra-putri mereka, tenggelam dalam kebinasaan limbah produksi tekhnologi canggih dan limbah kreasi peradaban modern? Tentu kita tidak rela kebinasaan itu menimpa diri kita maupun anak cucu kita.
Pengaruh-pengaruh inilah yang dampaknya dapat mengakibatkan menurunnya semangat jama’ah dalam mencari ilmu.
Menyadari akan besarnya bahaya dari pengaruh-pengaruh kemaksiatan ini maka menjadi ‘alim terhadap ilmu Al-Qur`an dan Hadits adalah satu satunya pilihan bagi keselamatan diri kita, dan sekali lagi ‘alim terhadap ilmu Al-Qur`an dan Hadits adalah satu-satunya pilihan dan tidak ada pilihan yang lain! Alloh telah mengungkapkan hal ini dalam firmannya :
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِباَدِهِ الْعُلَمَاؤُ إِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ * سورة فاطر ٢٨
Sebenarnya yang takut (melanggar perintah) Alloh dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun.
A. Pengaruh-pengaruh Yang Menurunkan Semangat Mencari Ilmu
Modernisasi dengan dampak negatif dari kemajuan teknologinya mengakibatkan terjadinya perubahan peradaban manusia, perubahan pola pikir, dan bergesernya nilai moral yang semua itu semakin menjauhkan umat manusia dari ajaran-ajaran dan hukum-hukum agama.
Saat ini yang perlu kita pikirkan bersama adalah bagaimana agar diri kita, anak cucu kita, orang tua kita, keluarga kita, semuanya bisa selamat dari semua kerusakan dan kemaksiatan itu dengan cara mewaspadai berbagai macam pengaruhnya.
1. Pengaruh pergaulan.
Telah menjadi petunjuk yang sering kali disampaikan melalui nasehat-nasehat dari para ulama` kita bahwa menjaga pergaulan adalah salah satu diantara lima syarat utama diperolehnya kefahaman Jama’ah. Hal ini menjadi begitu penting dan menentukan agar jama’ah terhindar dari pengaruh-pengaruh yang menurunkan semangat dalam mencari ilmu. Kita perhatikan sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam berikut ini:
اْلأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ * رواه البخارى عن عائشة
Ruh-ruh (semua hamba) bolo-membolo (saling berkumpul), ruh yang saling mengenal (karena kesamaan sifat) akan berkumpul dan ruh yang saling ingkar akan berselisih (berpisah).
Berdasarkan hadits diatas kita tahu bahwa hamba yang berthobiat baik akan berkumpul dan mendekat kepada hamba yang baik, dan sebaliknya hamba yang berthobiat buruk akan berkumpul dan mendekat kepada hamba yang berthobiat buruk pula. Hamba yang berthobiat baik tidak akan mungkin bisa tenang berkumpul dengan hamba yang berthobiat buruk.
Kita bisa mengambil pelajaran dari Luqman Al-Hakim yang berpesan kepada putranya :
يَابُنَيَّ جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ فَإِنَّ اللهَ يُحْيِى الْقُلُوْبَ بِنُوْرِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِى اللهُ اْلأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ * رواه مالك فى المواطأ
Wahai anakku temani duduklah ulama` dan desaklah mereka dengan kedua lututmu (selalu mendekat untuk meraih ilmu dari mereka), karena sesungguhnya Alloh akan menghidupkan hati dengan cahaya hikmah (yang diperoleh dengan ilmu dari ulama`) sebagaimana Alloh menghidupkan kembali bumi yang kering sebab turunnya hujan dari langit.
Mungkinkah orang yang faham akan tahan berkumpul bersama dengan orang-orang yang banyak berbuat maksiat karena mereka adalah orang-orang yang bodoh ilmu agamanya?
Tentu ia akan merasa resah dan gelisah tatkala berada di tengah-tengah mereka, bagaikan seekor ikan yang dipaksa mentas dan hidup di luar kolamnya!
Lebih jelas Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ * رواه أبو داود عن أبى هريرة
Seorang laki-laki itu menetapi kebiasaan teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.
Siapakah teman kita? Dialah yang akan menentukan siapa kita!
Menyadari akan hal ini, Shohabat Abu Tholhah sengaja minta kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam agar anak tirinya yaitu Anas bin Malik diidzinkan menemani dan melayani beliau hingga kurun waktu 10 tahun lamanya agar Anas di kemudian hari menjadi seorang yang ‘alim dan berkepribadian sebagaimana Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam.
Begitu besar pengaruh pergaulan, seseorang yang yang semula faham sekalipun akan bisa rusak dan hilang kefahamannya jika salah dalam memilih teman bergaul, apalagi jika dia bukan orang ‘alim dan salah memilih teman bergaul.
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam menggambarkan:
مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيْسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيْرِ الْحَدَّادِ لاَ يَعْدِمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيْهِ أَوْ تَجِدُ رِيْحَهُ وَكِيْرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيْثَةً * رواه البخارى عن أبى موسى
Perumpamaan teman bergaul yang sholih dan teman bergaul yang jelek adalah sebagaimana penjual minyak wangi dan ubupan (perapian) pandai besi. Penjual minyak wangi tidak akan melewati padamu, adakalanya kamu akan membeli minyak wangi itu darinya, atau (paling tidak) kamu akan mendapatkan bau wanginya. Dan (sedangkan) pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu atau (paling tidak) akan kamu dapatkan bau sangitnya.
Lalu siapakah yang menjadi teman kita? Siapakah yang menjadi teman bagi anak-anak kita? Dan siapakah yang menjadi teman bagi anggota keluarga kita? Apakah mereka adalah teman yang sholih? Atau justru sebaliknya?!
2. Pengaruh perkembangan ekonomi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor ekonomi begitu penting peranannya bagi kelangsungan hidup setiap umat manusia, sehingga adalah hal yang wajar ketika tiap orang mengharapkan bisa hidup dengan berkecukupan dan mempunyai taraf ekonomi yang baik dan mapan. Namun sayang ternyata faktor ekonomi, kerap kali menjadi alasan pembenaran bagi mereka yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari dunia dan tidak menyisakan waktu untuk mencari ilmu Al-Qur`an dan Hadits. Bagi jama’ah yang faham, ketika ia bisa hidup dengan berkecukupan dan mempunyai taraf ekonomi yang mapan maka kekayaan duniawi yang ia miliki akan banyak ia arahkan untuk kelangsungan pembelaan agamanya karena ia mengacu pada firman Alloh:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلى تِجَارَةٍ تُنجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ * تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِه وَتُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ * سورة الصف ١٠-١١
Wahai orang-orang yang beriman, maukah kalian Aku tunjukkan pada dagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari siksa yang pedih? Yaitu, kalian beriman kepada Alloh dan RosulNya, serta kalian berjuang membela agama Alloh dengan harta benda dan diri kalian. Yang demikian itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalisn hendak mengetahui (hakikat yang sebenarnya).
Juga mengacu pada sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
إِذاَ كاَنَ فِى آخِرِ الزَّمَانِ لاَ بُدَّ لِلنّاَسِ فِيْهَا مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّناَنِيْرِ يُقِيْمُ الرَّجُلُ بِهاَ دِيْنَهُ وَدُنْياَهُ * رواه الطبرانى فى الكبير عن عمران بن حصين
Ketika telah ada di dalam zaman akhir maka tidak bisa tidak (harus) bagi manusia yang hidup di zaman itu (menggunakan) dirham dan dinar untuk menegakkan agamanya dan (juga) dunianya.
Hendaklah kita waspada karena ternyata hasrat terhadap ekonomi yang secara kodrati telah dimiliki oleh setiap anak Adam akan muncul menjadi bumerang ketika tidak didasari dengan kefahaman agama yang cukup! Yaitu kefahaman agama yang diraih melalui penguasaan Qur`an dan Hadits. Sebab jika tidak, maka hasrat itu akan menjadi liar dan dari situlah muara segala macam bentuk kesalahan akan dilakukan.
Hal ini telah diisyaratkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:
حُبُّ الدُّنْياَ رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ * رواه البيهقى عن الحسن
Senang (yang berlebihan) terhadap dunia adalah pangkal dari segala kesalahan.
Tidak sedikit orang berdusta, khianat, serta hilang sifat amanatnya karena berawal dari rasa senang dan nggrangsangnya pada harta dunia. Bahkan orang yang telah dianggap alim pun akan terseret ke dalamnya ketika pangkal segala kesalahan ini ia abaikan.
Dan salah satu alasan kenapa ia sampai mengabaikan pangkal segala kesalahan ini adalah karena ia tidak meneladani sifat zuhud yang telah diwariskan oleh Rosululoh Shollallohu ‘alaihi wasallam.
Almarhum KH. Nurhasan Al-Ubaidah pernah menyebut sebuah istilah dalam nasehatnya : “Ojo ongso-ongso, koyo cacing nguntal klopo, ora kuntal malah bongko.”
Ini adalah sebuah peringatan agar kita tidak tamak akan harta.
Ingatlah firman Alloh :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا َيَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُوْرُ* إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُوْ حِزْبَه لِيَكُوْنُوْا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ * سورة فاطر ٥-٦
Wahai umat manusia, sesungguhnya janji Alloh (membalas amal kalian) adalah benar maka janganlah kalian tertipu daya oleh kemewahan hidup dunia, dan janganlah syetan yang menjadi penipu terbesar itu memperdayakan kalian meninggalkan tho’at pada Alloh. Sesungguhnya syetan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia musuh (yang mesti dijauhi tipu dayanya); sebenarnya dia hanyalah mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka Sa’ir.
B. Akibat Kurangnya/Hilangnya Ilmu
Ketika umat manusia disibukkan oleh segala macam persoalan duniawi dan ia pun berani menomorduakan masalah akhirat, maka muncullah sebuah generasi yang begitu mahir dan membanggakan ilmu dunianya namun ia bodoh terhadap ilmu agama, dan ketahuilah bahwa terhadap generasi semacam inilah Alloh akan menjatuhkan murkanya!
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ اللهَ تَعاَلىَ يَبْغَضُ كُلَّ عاَلِمٍ باِلدُّنْياَ جاَهِلٍ باِْلأَخِرَةِ * رواه الحاكم عن أبى هريرة
Sesungguhnya Alloh yang maha luhur murka pada tiap-tiap orang yang pandai ilmu dunia yang bodoh dalam ilmu akhirat.
Dan orang yang seperti ini Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam menggambarkan sebagai pribadi yang teramat buruk. Beliau bersabda :
إِنَّ اللهَ يَبْغَضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فِى اْلأَسْواَقِ جِيْفَةٍ باِللَّيْلِ حِماَرٍ باِلنَّهاَرِ، عاَلِمٍ باِلدُّنْياَ جاَهِلٍ بِاْلأَخِرَةِ * رواه البيهقى
Sesungguhnya Alloh akan murka kepada tiap-tiap orang yang keras hatinya lagi sombong, orang yang senang ramai (bertengkar) di pasar, seperti bangkai di malam hari (karena tidak sholat malam), seperti khimar di siang hari (karena hanya memikirkan makan), pandai ilmu dunia namun bodoh ilmu akhirat.
Dan ketika ulama` sebagai pewaris ilmu para nabi satu demi satu wafat, sebelum ada generasi penerus yang lebih dulu mewarisi ilmunya, maka seiring dengan berpulangnya para ulama` menghadap kepada Alloh, berpulang pulalah kebenaran ilmu Al-Qur`an dan Hadits ini, dan ini sungguh akan berakibat sangat fatal bagi keselamatan kita seluruh umat manusia yang hidup di permukaan bumi ini! Karena yang akan menjadi pemimpin kita tinggal orang-orang yang bodoh lagi hina. Sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا * رواه البخارى عن عبد الله بن عمرو بن العاص
Sesungguhnya Alloh tidak akan mencabut ilmu dengan cara mencabut ilmu itu dari hamba-hambanya, akan tetapi Alloh mencabut ilmu itu dengan cara mewafatkan para ulama`, sehingga ketika tidak ada seorang ‘alim pun yang tersisa maka manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka, lalu ketika pemimpin yang bodoh itu ditanya maka mereka akan memberi fatwa dengan tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.
Hilangnya ilmu ternyata bukan saja berakibat buruk pada agama namun juga berakibat buruk pada urusan-urusan dunia, sebagaimana pesan yang pernah disampaikan oleh seorang ahli hadits :
عَنِ الزُّهْرِيِّ كاَنَ مَنْ مَضَى مِنْ عُلَمَاءٍ يَقُوْلُوْنَ اْلإِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ وَالْعِلْمُ يُقْبَضُ قَبْضًاسَرِيْعًا فَنَعْشُ الْعِلْمِ ثَبَاتُ الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَفِى ذِهَابِ الْعِلْمِ ذِهَابُ ذَالِكَ كُلِّهِ * رواه الدارمى
Dari Zuhri (ia berkata) : adalah para ulama` salaf mereka berkata, “Berpegang teguh terhadap sunnah adalah keselamatan. Ilmu itu akan digenggam dengan cepat, maka menegakkan ilmu itu akan menetapkan agama dan dunia, dan didalam hilangnya ilmu adalah hilangnya semua (agama dan dunia).”
C. Polnya Ilmu Al-Qur`an dan Hadits
Keagungan dan kemuliaan Alloh sebagai Sang Pencipta alam semesta tak terbandingi oleh apapun, karena pada hakekatnya semua yang selain Alloh adalah makhluq, demikian pula dengan kalam Alloh yang mengalahkan sya`airul kalam, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
فَضْلُ الْقُرْأنِ عَلَى ساَئِرِ الْكَلاَمِ كَفَضْلِ الرَّحْمنِ عَلَى ساَئِرِ خَلْقِهِ * رواه البيهقى عن أبى هريرة
Keutamaan ilmu Al-Qur`an mengalahkan semua kalam sebagaimana keutamaan Alloh mengalahkan semua makhluqnya.
Sebaliknya jika seseorang menganggap semua ilmu dunia itu lebih utama dan lebih mulia daripada Al-Qur`an dan Hadits maka itu adalah sebuah kemaksiatan kepada Alloh! Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَمَنْ قَرَأَ الْقُرْأنَ فَرَأَى أَنَّ أَحَدًا أُعْطِيَ أَفْضَلَ مِمَّا أُعْطِيَ فَقَدْ عَظَّمَ ماَ صَغَّرَ اللهُ وَصَغَّرَ ماَ عَظَّمَ اللهُ * رواه الطبرانى
Dan barangsiapa membaca Al-Qur`an lalu ia menganggap bahwa ada seseorang yang telah diberi sesuatu yang lebih utama daripada (Al-Qur`an) yang telah diberikan kepadanya maka sungguh ia telah mengagungkan sesuatu yang diremehkan oleh Alloh dan ia telah meremehkan pada sesuatu yang telah diagungkan oleh Alloh.
Oleh karena itulah Alloh mengangkat derajat orang iman yang ‘alim, sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur`an:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ * سورة المجادلة ١١
Alloh mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian, dan orang-orang yang diberi ilmu (dari kalangan kalian), beberapa derajat. Dan (ingatlah), Alloh Maha Waspada tentang apa yang kalian lakukan.
Marilah kita simak bagaimana Al-Imam Al-hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqolani menjelaskan dalam kitabnya “Fathul Baari : syaroh Shohih Bukhori” tentang sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam yang berbunyi:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ ... الحديث * رواه البخارى عن معاوية
Barangsiapa yang Alloh menghendaki kebaikan padanya maka Alloh menjadikannya faham/ahli dalam agama.
Penjelasan itu sbb:
وَمَفْهُوْمُ الْحَدِيْثِِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِى الدّيْنِ ، أَيْ يَتَعَلَّمَ قَوَاعِدَ اْلإِسْلاَمِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوْعِ ، فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ * فتح البارى شرح صحيح البخارى
Yang tersirat dalam hadits ini, dapat dipahami bahwa sesungguhnya orang yang tidak memahami ilmu agama − yaitu orang yang tidak mempelajari dasar-dasar/pokok-pokok Islam dan apa-apa yang terkait dengannya dari masalah furu’iyah − maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan.
Kalau sudah dinyatakan bahwa tanpa faham dan mengerti terhadap Qur`an dan Hadits tidak akan bisa takut kepada Alloh dan tidak akan mendapatkan kebaikan dari Alloh, lalu... siapalagi yang lebih berhak kita takuti selain Alloh? Dan kebaikan apalagi yang lebih kita harapkan selain surga Alloh?
D. Kefadlolan Mencari Illmu dan Menjadi ‘Alim
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika jalan hidup yang dilaluinya di muka bumi ini Alloh menghitungnya sebagai jalan surga yang sedang dilalui? Jalan surga itu didapat oleh orang-orang yang mencari ilmu Al-Qur`an dan Hadits.
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika dirinya serta anak cucunya menjadi orang yang dicintai oleh Allah, dicintai oleh semua malaikat penghuni langit dan bumi ? Cinta itu didapat oleh orang-orang yang mencari ilmu Al-Qur`an dan Hadits.
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika dimintakan ampun oleh semua penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang ada di dalam air?
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika mendapatkan keutamaan dari Alloh mengalahkan hamba-hamba yang lain, Sebagaimana cahaya bulan di malam purnama mengalahkan cahaya semua bintang di langit? Keutamaan itu didapat oleh orang-orang yang ahli ilmu, bukan orang lain.
Siapakah yang tidak senang dan bangga jika dijadikan sebagai pewaris para nabi, manusia terpilih yang paling dekat dengan Alloh di muka bumi ini? Pewaris itu adalah orang-orang yang ‘alim (ahli ilmu), bukan orang lain!
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِى اْلأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ ، وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِينَارً وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ * رواه ابن ماجه
Barangsiapa yang melewati sebuah jalan, ia mencari ilmu di jalan itu, maka Alloh menjalankannya di salah satu jalan-jalan surga. Dan sesungguhnya niscaya ada malaikat yang meletakkan/merapatkan sayapnya karena ridlo terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang alim niscaya dimintakan pengampunan oleh penghuni langit, penghuni bumi dan juga ikan-ikan yang ada di dalam air. Dan sesungguhnya, keutamaan orang yang ‘alim mengalahkan orang yang ahli ibadah (tetapi tidak alim) sebagaimana keutamaan cahaya bulan purnama yang mengalahkan semua cahaya bintang di langit. Dan sesungguhnya ulama` adalah pewaris para nabi, yang para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, namun mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambil ilmu itu berarti ia telah mengambil bagian yang sempurna!
Sebagian orang merasa, kesibukannya dalam menuntut ilmu Al-Qur`an dan Hadits akan mengurangi kesempatannya untuk membantu dalam meringankan maisyah keluarganya. Namun sebenarnya justru dengan kesibukannya dalam menuntut ilmu Al-Qur`an dan Hadits, Alloh mencurahkan banyak kebarokahan, baik terhadap dirinya maupun keluarganya. Hal ini pernah dialami oleh dua orang bersaudara yang hidup pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ r فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِى النَّبِيَّ r وَالأَخَرُ يَحْتَرِفُ فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ r فَقَالَ لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ * رواه الترمذى
Dari Anas bin Malik Ia berkata : ada dua orang bersaudara pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam, salah satunya datang (mengaji) kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, sedangkan yang lain bekerja. Maka yang bekerja itu melaporkan tentang saudaranya kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, maka Nabi bersabda, “Barang kali kamu diberi rizqi (oleh Alloh) lantaran saudaramu.”
Bagaimana hati kita tidak tergerak untuk membawa anak kita dan mengantarkannya menjadi seorang ulama` kalau ternyata Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam menjamin mahkota akan diberikan kepada kita saat menghadap di sisi Alloh di hari kiamat nanti?
Sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
مَنْ قَرَأَ الْقُرْأنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيْهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِى بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيْكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِى عَمِلَ بِهذَا * رواه أبو داود
Barangsiapa membaca Al-Qur`an dan mengamalkan isinya, maka diberikanlah mahkota bagi kedua orang tuanya. Terangnya sinar mahkota itu lebih baik daripada terangnya sinar matahari di rumah dunia. Seandainya matahari itu ada di rumah kalian, lalu bagaimanakah persangkaan kalian terhadap orang yang mengamalkannya? (Jawab: tentu akan mendapatkan kedudukan yang lebih mulia dari pada orang tuanya!)
Dalam istilah Jawa disebutkan : “Dadi rojo gung binatoro kajen keringan nganggur ngetekur urip langgeng sak lawas-lawase.” Itu semua lantaran anak kita menjadi ulama`!!!
Dari semua uraian diatas, maka sungguh perlu kiranya bagi setiap orang tua jama’ah mempertimbangkan dengan sangat! Dalam membina putra-putrinya, agar menyisihkan waktu bagi putra-putrinya barang satu tahun untuk pergi mondok guna membekali ilmu yang luhur, yaitu mengerti Qur`an dan Hadits, dan alangkah akan lebih baik lagi jika sampai menjadi muballigh muballighot, hingga setiap putra-putri jama’ah mempunyai bekal dan modal yang cukup sebagai benteng pertahanan yang kuat bagi dirinya dalam menghadapi gencarnya pengaruh-pengaruh kemaksiatan dalam kehidupan kita di akhir zaman ini.
Dan bekal apakah yang lebih baik yang telah kita berikan pada anak-anak kita untuk menghadapi kerusakan zaman ini selain Qur`an dan Hadits? selain menjadikan mereka ulama`-ulama` yang faqih? Yang dengannya Alloh menjamin ketaqwaannya? Yang dengan ketaqwaan inilah Alloh memasukkan ke dalam surga.
Sebagaimana telah dituangkan dalam firman Alloh :
وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى وَاتَّقُوْنِى يَاأُولِى اْلأَلْبَابِ * سورة البقرة ١٩٧
Dan hendaklah kalian mempersiapkan bekalmu, karena sesungguhnya sebaik-baiknya bekal ialah taqwa; dan bertaqwalah kepadaKu wahai orang-orang yang berakal.
Dan dengan taqwa inilah maka surga bisa kita raih karena hal ini merupakan janji dari Alloh, sebagaimana telah dimuat dalam Al-Qur`an :
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِى وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ * سورة الرعد ٣٥
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa itu ialah air sungai-sungainya senantiasa mengalir di sekitar tamannya, makanannya kekal tidak putus-putus dan naungannya senantiasa teduh. Itulah kesudahan usaha orang-orang yang bertaqwa, sedang kesudahan usaha orang-orang yang kafir ialah neraka.
Atau, masihkah kita akan menjadikan ke’aliman sebagai alternatif terakhir? Yang berarti keselamatan kita dan anak cucu kita dari segala kerusakan zaman ini pun akan kita jadikan sebagai alternatif terakhir pula?
Tentu saja kita akan berkata tidak!!! Karena itu berarti akan membiarkan kemungkaran-kemungkaran itu berjalan hingga memudlorotkan kita dan anak cucu kita, yang membiarkannya berarti jauh dari hakikat keimanan yang ada dalam diri kita! Hal ini dengan jelas Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذاَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ * رواه مسلم عن أبى سعيد
Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubah kemungkaran itu dengan menggunakan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan menggunakan lisannya, jika ia tidak mampu maka menggunakan hatinya, dan mengubah dengan hati itu adalah iman yang paling lemah.
Maka membentengi diri kita dan anak cucu kita dari semua kemungkaran yang ada dengan segala kemampuan yang kita miliki adalah mutlak kita lakukan, siapa lagi yang akan melakukannya kalau bukan kita sendiri? Karena bukanlah orang lain yang akan merubah keadaan pada diri kita, yang menentukan warna hitam atau putihnya hidup kita, akan tetapi dengan idzin Alloh kita sendirilah yang akan merubah dan menentukannya!
Alloh telah berfirman :
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنفُسِهِمْ ... الأية * سورة الرعد أية ١١
Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu mau mengubah pada keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
E. Kewajiban Mencari Ilmu dan Mengamalkan
Islam adalah agama samawi, agama yang segala tuntunan ibadahnya telah ditetapkan oleh Alloh Sang Kholiq Pencipta langit dan bumi, oleh karenanya hamba akan bisa mengenal Alloh sebagai Tuhannya untuk kemudian mengenal tuntunan ibadahnya dengan mengikuti petunjukNya bukan dengan cara mengikuti reka-reka fikirannya sendiri. Lalu agar hamba mengenal Tuhannya untuk selanjutnya mengikuti tuntunan ibadahnya maka Alloh pun berfirman :
فَاعْلَمْ أَنَّه لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ... الأية * سورة محمد ١٩
Ketahuilah (wahai Muhammad) sesungguhnya tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Alloh,
Berdasarkan ayat ini, agar bisa mengetahui serta meyakini dengan sebenarnya tentang hakikat keesaan Alloh, maka berilmu menjadi perintah utama dari Alloh, yang berarti tanpa ilmu maka mustahil pengetahuan, keyakinan pada kebenaran hakekat keesaan Alloh itu bisa diraih!
Maka inilah alasan mengapa menuntut ilmu Al-Qur`an dan Hadits diwajibkan kepada setiap muslim, sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ... الحديث * رواه ابن ماجه عن أنس بن مالك
Mencari ilmu itu wajib bagi tiap-tiap orang Islam.
Dan bagi orang yang telah mengerti dan memahami ilmunya ia berkewajiban mengamalkan ilmunya. Mengingat firman Alloh :
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِى أُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُوْنَ * سورة الزخرف 72
Dan (dikatakan lagi kepada ahli surga), “Surga yang diwariskan kepada kalian itu, disebabkan apa yang telah kalian amalkan.”
Surga dengan beberapa derajat yang ada di dalamnya hanya diberikan kepada orang yang mengamalkan ilmunya, hal ini berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut :
Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى ماَ كَانَ مِنَ الْعَمَلِ * رواه البخارى
Alloh akan memasukkannya ke dalam surga menurut banyaknya amal (ibadah yang telah ia kerjakan).
Firman Alloh:
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوْا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُوْنَ * سورة الأحقاف 19
Dan bagi masing-masing (akan mendapatkan) derajat yang sesuai dengan amalan mereka, dan supaya Allah menetapi amalan mereka, sedang mereka tidak dianiaya.
وَالْعَصْرِ * إِنَّ اْلإِنسَانَ لَفِى خُسْرٍ * إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ * سورة العصر 1-3
Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan mereka saling wasiat pada kebenaran serta mereka saling wasiat tentang sabar.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنِ آمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لاَ تَفْعَلُوْنَ * كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُوْلُوْا مَا لاَ تَفْعَلُوْنَ * سورة الصف ٢-٣
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian amalkan! Amat besar kebenciannya di sisi Allah apabila kalian mengatakan apa yang tidak kalian amalkan!
Kemudian diperkuat oleh sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَاباً يَوْمَ الْقِياَمَةِ عاَلِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ * رواه الطبرانى فى الصغير عن أبى هريرة
Manusia yang paling berat siksanya di hari kiamat nanti ialah orang yang berilmu yang tidak bermanfaat ilmunya.
F. Upaya-Upaya Meningkatkan Semangat Mencari Ilmu
Mengingat demikian pentingnya mempelajari dan mendalami Al-Qur`an dan Hadits bagi kita, sementara begitu besar dampak negatif perkembangan teknologi mempengaruhi kesemangatan dalam mencari ilmu Al-Qur`an dan Hadits, maka diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan semangat jama’ah dalam mencari ilmu. Upaya-upaya itu antara lain :
1. Memanfaatkan waktu.
Marilah kita perhatikan dengan seksama, dari waktu demi waktu yang kita lalui, seberapa banyakkah yang kita pergunakan untuk ibadah kepada Alloh, dan seberapa banyakkah yang kita buang percuma? Untuk nonton televisi, menyaksikan film-film cerita, duduk-duduk bersama teman-teman dengan membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Maupun untuk hal-hal lain yang bersifat lahan-lahan.
Sungguh sangat beruntung jika waktu yang kita miliki dalam hidup yang sangat terbatas ini lebih banyak kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, baik bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Dan menggunakan waktu kita untuk mendalami Al-Qur`an dan Al-Hadits adalah pilihan yang paling tepat. Toh waktu jika tidak kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat akan merugikan kita, ingat bahwa waktu yang telah berlalu tak akan kembali lagi, bagaikan senjata makan tuan, sebagai mana kata pepatah :
الْوَقْتُ كاَلسَّيْفِ مَنْ لَمْ يَقْطَعْ يُقْطَعْ *
“Waktu itu sebagaimana pedang, barangsiapa yang tidak menggunakannya (untuk hal-hal yang bermanfaat) maka pedang itu akan memotongnya.”
2. Motivasi.
Ada sebuah kisah nyata, seorang cabe rawit yang sedang duduk di samping ayahnya, lalu sang ayah berkata, “Le anakku, kalau kamu telah dewasa nanti ayah akan bangga ketika dapat menyaksikan kamu berhasil meraih sukses dalam karirmu. Tapi ayah akan lebih bangga lagi kalau kamu juga menjadi muballigh bahkan kalau kamu bisa, jadilah gurunya mubaligh, karena dengan kamu jadi mubaligh kelak akan menjadi celengan (tabungan) bagi orang tuamu di hadapan Alloh pada hari kiamat nanti.” Kini cabe rawit itu telah beranjak dewasa, lantaran dorongan semangat dari orang tuanya ia pun berhasil menjadi muballigh, gurunya muballigh, bisa meraih gelar sarjana serta sebagai pengusaha.
Cerita ini menunjukkan bahwa motivasi dari orang tua begitu besar pengaruhnya bagi kesemangatan mencari ilmu.
Maka perlu bagi orang tua, pengurus, penasehat dalam Jama’ah, memberikan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan yang dapat memotivasi generasi penerus untuk bersemangat mencari ilmu, jadi muballigh, jadi ulama` di dunia dan akhirat.
Sebagaimana dikehendaki oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ مِنَ الْبَياَنِ لَسِحْراً * رواه أبو داود
Sesungguhnya sebagian dari keterangan itu bisa menyihir (merubah keadaan).
Disamping itu masih ada upaya-upaya lain yang mungkin dapat menambah kesemangatan didalam mencari ilmu.
Hendaklah dimengerti oleh semua jama’ah bahwa menjadi ahli ilmu yang merupakan perintah dari Alloh dan demikian luhur derajatnya di sisi Alloh itu tidaklah cukup hanya dengan mengerti dan menguasai Qur`an dan Hadits saja. Namun lebih dari itu wajib mengamalkannya, maka orang seperti inilah yang disebut ‘alim, sebagaimana diriwayatkan dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
وَالْعاَلِمُ الَّذِى يَعْمَلُ * رواه أبو الشيخ
Dan orang yang ‘alim adalah yang mengamalkan ilmunya.
Akhirnya kita berdo’a semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menyentuh hati semua warga Jama’ah yang mendengar dan membaca makalah ini hingga mampu memberi semangat pada dirinya maupun anak-anaknya untuk mencari ilmu, meraih predikat sebagai hamba Alloh yang ahli ilmu, semangat dan merasa mulia menyandang predikat sebagai muballigh muballighot yang faqih, karena itulah predikat yang mulia di sisi Alloh. Amin.
Semoga Qur`an Hadits Jama’ah senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Alloh, hingga semua jama’ah bersama-sama masuk ke dalam surga Alloh selamat dari neraka Alloh. Amin.
Langganan:
Komentar (Atom)